Saturday, June 23, 2007

HOMONIMI KATA MELAYU DAN KATA INDONESIA

Tulisan berikut adalah karya Soehenda Iskar yang saya ambil dari alamat berikut:

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0604/06/khazanah/wisatabahasa.htm

Homonimi Kata Melayu dan Kata Indonesia
Asuhan Soehenda Iskar

BERBEDA dengan tata bahasa, kajian sosiolinguistik harus mempertimbangkan objek telaah bahasa, apakah datanya berdasarkan (a) pendekatan sinkronis atau (b) pendekatan diakronis. Data bahasa waku sekarang tahun 2004 dipergunakan bila pendekatan sinkronis yang akan kita terapkan saat ini. Data yang berasal dari masa silam yang berlatar belakang kesejarahan, misalkan penggunaan bahasa Indonesia abad ke-19, merupakan data telaah untuk pendekatan diakronis. Boleh keduanya dipakai asalkan ada perbandingan.
Menelusuri ke masa lampau kita mengetahui bahwa bahasa Melayu di negeri jiran, di Malaysia dan Brunei Darussalam serumpun dengan bahasa Indonesia. Hanya karena pengaruh penjajahan Inggris di sana dan penjajahan Belanda di negeri kita, terjadi diversifikasi mengenai kedua bahasa itu. Kontak pun terputus.
Sementara itu tinjauan semantik yang mempelajari segala arti, menerangkan kesamaan bentuk kata namun perbedaan makna, berakibat melahirkan homonim hasilnya berupa homonimi. Marilah kita membuat verifikasi mengenai homonimi melalui penerapan kedua pendekatan tersebut.
(1) Dari bandar yang menyelenggarakan perjudian illegal, polisi menyita uang 30 juta rupiah. (2) Belum lama ini telah disergap oleh satserse seorang bandar narkoba. (3) Baik Jakarta maupun Surabaya layak dinamakan bandar. (4) Pemeriksaan dan pengawasan di bandar udara diperketat untuk mencegah aksi terorisme yang minta korban. (5) Kenalan saya tinggal di luar bandar Kualalumpur.
Kata bandar (1) serapan dari bahasa Sunda yang bermakna denotasi cukong atau koordinator perjudian. Sebagai kata serapan dalam bahasa Indonesia, kata bandar (2) meluas artinya yaitu gembong kriminalitas. Dalam bahasa Indonesia yang berbasis dialek Melayu Riau, kata bandar (3) bermakna kota yang hanya mempunyai pelabuhan, autoritas pelabuhan disebut syahbandar. Oleh karena itu, kata bandar dengan arti denotasinya cocok diterapkan pada Jakarta, Surabaya. Di negeri jiran, di Malaysia dan di Brunei Darussalam yaitu dalam bahasa Melayu kata bandar (5) bermakna kota untuk bahasa Indonesia. Dalam kosa kata Indonesia kata bandar (4) terjadi perluasan arti yaitu tempat berlabuh angkutan laut dan angkutan udara/bandara.
Dari hasil analisis deskriptif terhadap kata bandar (1,2,3,4,5) yang merupakan polisemi dan dibandingkan dengan kata Melayu telah menghasilkan homonimi. Marilah kita lanjutkan telaah homonimi lainnya.
(6) Allah swt. berfiman dalam Alquran surah al Hijr ayat 9, Sesungguhnya kami telah menurunkan al Quran, dan sesungguhnya kami tetap memeliharanya. Makna ayat sebagai kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia ialah beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud sebagai bagian surah dalam kitab suci Alquran. Dikutip dari UUD pasal 27 ayat (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Kata ayat (1) bermakna beberapa kalimat yang merupakan kesatuan maksud sebagai bagian pasal dalam undang-undang. Jadi, kata ayat (1,2) menunjukkan polisemi juga dan tampaknya homonim pula dengan kata ayat (3) dalam bahasa Melayu " " Cerpennya terdiri dari ayat-ayat yang diucapkan seseorang. Kata ayat sebagai kata Melayu sama artinya dengan kalimat untuk bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kata ayat (1,2,3) tergolong homonim.
(1) Dahulu ia berkhidmati sebagai pensyarah di universiti. Pada upacara bendera dan apel pagi para peserta berdiri (2) khidmat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dari contoh kalimat (1) diperoleh kata Melayu berkhidmat dan pensyarah yaitu dosen untuk kata Indonesia. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia kata berkhidmat itu ialah berdinas, berprofesi. Pemakaiannya jarang, janggal dalam bahasa kita. Dari contoh kalimat (2) kata Indonesia khidmat sering berfungsi sebagai adverbia dengan arti hormat, takzim. Hasil analisis deskriptif tersebut menunjukkan kata berkhidmat, khidmat adalah homonim juga.
Menurut laporan akhbar, semalam hujan ribut, pokok durian jiran kami buahnya yang kuning gugur. Kata-kata Melayu akhbar diartikan dengan harian, koran atau surat kabar. Jika kita hendak beradaptasi boleh kita menyebut akhbar Pikiran Rakyat dari Bandung. Kata pokok dalam bahasa Melayu boleh diartikan dengan kata Indonesia (batang) pohon. Akan tetapi, kata ini polisemi karena maknanya dalam bahasa Indonesia ialah (1) uang modal, (2) inti, asas, dasar (pokok pikiran), (3) yang utama (soal pokok), (4) sebab (pokok perselisihan). Kata Melayu ribut tidak lazim untuk peristiwa hujan. Dalam bahasa Indonesia ada arti kolokasi hujan lebat. Namun dalam bentuk arkhais ditemukan kelompok kata angin ribut yang artinya badai.
Dengan pendekatan sinkronis ternyata kata Indonesia ribut bermakna polisemi karena artinya (a) gaduh, (b) berisik, (c) berselisih, bertengkar. Menurut arti denotasi kata gugur yaitu jatuh seperti dalam bahasa Melayu. Akan tetapi, kata gugur dalam bahasa Indonesia digunakan dengan arti konotasi dan meliputi gaya bahasa eufimisme "Dalam pertempuran di Bandung Selatan melawan serdadu NICA yang persenjataannya lengkap selama perang kemerdekaan, telah gugur banyak pejuang," yaitu tewas.
Pada akhirnya homonimi terungkap dalam kalimat (1) Antologi Memburu Pagi diselenggarakan oleh Awang H. Magon bin Ghafar. (2) Kampanye parpol untuk pemilu 5 April diselenggarakan di lapangan Gasibu. Meskipun kedua kata sama bentuknya, artinya berbeda sekali. Kata diselenggarakan (1) sebagai kata Melayu dapat diartikan polisemi yaitu dibukukan, dikarang, diterbitkan dan sebagainya. Sebaliknya kata Indonesia diselenggarakan (2) bermakna diadakan, dilaksanakan. Demikianlah deskripsi dan paparan mengenai homonimi yang terdapat dalam bahasa Melayu dengan sumbernya Majalah Bahana, Dewan Bahasa dan Pustaka, Brunei Darussalam.***

No comments: