Monday, August 2, 2010

ANAK PEREMPUAN DAN ANAK LELAKI

Ketika berlangsung seminar internasional bahasa Arab di kampus Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) baru-baru ini, di antara makalah yang disampaikan oleh peserta adalah tentang penggunaannya kata Allah oleh masyarakat non-muslim di Malaysia. Dr. Akmal Khuzairi, dosen Universiti Islam Antarbangsa Malaysia, penyaji makalah tersebut memaparkan asal-usul kata Allah, apakah kata tersebut merupakan nama diri asli atau derivatif (bentukan)? Artinya, jika kata Allah itu nama diri asli, berarti ia merupakan nama khas untuk Tuhan yang selama ini diyakini hanya disembah oleh umat Islam. Namun jika kata tersebut merupakan nama diri derivatif, yaitu berasal dari kata al-ilah yang berarti tuhan, maka nama tersebut berlaku untuk semua tuhan yang disembah oleh siapa pun.

Di Indonesia, kata Allah digunakan oleh selain umat Islam dengan sedikit perbedaan dalam pelafalan. Umat Kristiani menyebutnya dengan /alah/, tanpa menebalkan bunyi huruf /el/ dan tetap membunyikan huruf /a/ sebagai bunyi /a/. Mungkin karena adanya perbedaan pelafalan inilah, umat Islam Indonesia tidak pernah mempermasalahkan penggunaan kata Allah oleh masyarakat bukan-Muslim.

Islam di Malaysia merupakan agama resmi kerajaan. Islam identik dengan Melayu, sehingga bila ada orang China memeluk agama Islam, ia akan dikatakan bahwa dirinya telah menjadi orang Melayu.

Pada umumnya nama diri masyarakat Melayu masih sangat kental dengan nuansa Arab, berbeda dengan nama diri masyarakat Muslim di Indonesia. Nama diri masyarakat Melayu ini bukan hanya bernuansa Arab, tetapi juga dalam penyantuman orang tua mereka. Hampir di setiap nama diri disebutkan kata bin atau binti. Misalnya, Umar bin Abdurrahman dan Faizah binti Ali. Kedua kata ini, bin dan binti berasal dari bahasa Arab yang berarti anak perempuan dan anak lelaki. Di negara asalnya, kedua kata ini digunakan baik oleh masyarakat Muslim maupun masyarakat bukan-Muslim. Namun di negara jiran kita ini, kedua kata ini tampaknya telah menjadi monopoli masyarakat Melayu yang nota bene adalah masyarakat Muslim. Hal ini baru saya sadari ketika menghadiri wisuda di Universitas Malaya. Ketika para lulusan (graduan) dipanggil satu per satu ke atas panggung, berulang kali saya mendengar perkataan anak perempuan dan anak lelaki. Misalnya, Priya anak perempuan Mogan dan Saravanan anak lelaki Paramesvaran. Setelah berulangkali saya perhatikan, kesimpulan sementara saya adalah bahwa setiap nama yang menggunakan perkataan anak perempuan dan anak lelaki itu tak satu pun yang berasal dari bahasa Arab. Nama-nama tersebut adalah nama-nama masyarakat India. Dan betul, setelah saya cek dalam buku wisuda, saya temukan nama-nama tersebut: Priya a/p Mogan dan Saravanan a/l Paramesvaran. Sebetulnya saya sudah lama menemukan singkatan a/p atau a/l ini dalam buku atau tulisan, tetapi tidak pernah menduga bahwa singkatan tersebut adalah anak perempuan dan anak lelaki.

Nah, apakah perkataan bin dan binti ini kedudukannya sama dengan perkataan Allah? Setakat ini saya belum menemukan pembahasannya.

Tuesday, March 16, 2010

PENERJEMAHAN BUKAN SEKADAR MENGALIHKAN PESAN

Pada umumnya kita mengetahui bahwa penerjemahan adalah pengalihan pesan dari bahasa sumber (Bsu) ke bahasa sasaran (Bsa). Yang dialihkan bukanlah bentuk bahasa yang memang nyaris mustahil dialihkan karena setiap bahasa mempunyai sistem tersendiri yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya.

Jika diamati secara sepintas, buku-buku agama hasil terjemahan dari bahasa Arab yang beredar di pasar tampaknya merupakan sekadar hasil pengalihan pesan. Dengan perkataan lain, penerjemah dan penerbit telah merasa puas dengan telah mengalihkan pesan dari penulis buku berbahasa Arab menjadi buku berbahasa Indonesia. Mereka tidak memperdulikan bahwa struktur kalimat bahkan beberapa kosa-katanya sangat kental terpengaruh sistem bahasa Arab.

Dalam sebuah blog, sebuah judul tulisan berbunyi, "Gigitlah Sunnah ini dengan Gigi Gerahammu". http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/20/gigitlah-sunnah-ini-dengan-gigi-gerahammu/

Sementara itu, menurut teori penerjemahan "the best translation does not sound like translation", seakan-akan pesan ini tidak pernah dipertimbangkan oleh para penerjemah buku atau teks berbahasa Arab. Lebih dari itu, seorang guru besar bahasa Arab -- bukan penutur asli, memang -- menafikan kalau kolokasi bukan termasuk masalah penerjemahan. Menurutnya, selama pesan Bsu tidak dapat dialihkan 100% ke Bsa, penerjemahan apa pun tidak dapat dikatakan "masalah". Jadi, sangatlah wajar jika buku-buku terjemahan dari bahasa Arab yang ada di pasar tidak "sedap" dibaca karena bagi sebagian orang penerjemahan sudah dianggap selesai selama para pembaca Bsa memahaminya.

Sunday, March 7, 2010

KENTALNYA LIDAH WARGA MALAYSIA


Suatu petang TV3, stasiun tv swasta Malaysia menayangkan acara berjudul "Jalan-jalan Cari Makan", semacam "Wisata Kulinernya" Pak Bondan. Pembawa acaranya seorang wanita muda dengan pakaian trendi, tanpa menutup aurat sebagai wanita Muslimah secara penuh. Rambutnya dipotong pendek. Serina Ridzuan, namanya. Ada satu hal yang membuat saya cukup terpukau adalah ketika si pembawa acara ini memancing dan umpan di kailnya, secara spontan dia berteriak, "`AUDZU BILLAHI MINASY SYAITHANIR RAJIM BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM" dengan ucapan yang sangat fasih. Ucapan spontan tersebut terlontar ketika seekor ikan besar menyambar mata pancing. Ucapan seperti itu -- bagi kita warga Indonesia -- mungkin sulit kita dengar dari para pembawa acara yang bukan berbau agama.

Ketakjuban saya semakin bertambah ketika bintang tamu dalam acara itu, yaitu seorang selebritis yang cukup terkenal hendak menyantap hidangan. Dengan serta merta pula dan dengan suara yang cukup lantang membaca doa sebelum makan. Sekali lagi, acara yang ditayangkan adalah semacam wisata kuliner, ditayangkan oleh tv swasta dan bukan dalam bulan puasa.

Simpulan yang saya peroleh, pendidikan agama di Malaysia sedemikian kuat sehingga membekas dalam diri warganya. Hal itu tampak pula dalam penggunaan nama asli mereka yang memang sangat kental berbau bahasa Arab, Siti Nurhaliza, misalnya. Artis jelita yang telah menjadi isteri seorang pengusaha ternama ini tanpa sungkan memanggil dirinya dengan "siti", nama yang bagi sebagian orang terdengar kampungan.

Wednesday, February 24, 2010

PEMAKZULAN: SEBUAH DISKRIMINASI LINGUISTIK

Masih ingat kasus kasus orang miskin yang mencuri buah kakao yang dimejahijaukan dan mendapat hukuman sekian tahun, sementara yang merampok uang rakyat trilyunan rupiah masih bebas berkeliaran?

Nasib wong cilik memang selalu terpinggirkan, bahkan bukan di mata hukum tetapi juga di mata bahasa. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sering mendengar kata-kata pemakzulan. Akar kata pemakzulan adalah makzul. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online disebutkan:

mak·zul v berhenti memegang jabatan; turun takhta;
me·mak·zul·kan v 1 menurunkan dr takhta; memberhentikan dr jabatan; 2 meletakkan jabatannya (sendiri) sbg raja; berhenti sbg raja;
pe·mak·zul·an n proses, cara, perbuatan memakzulkan


Kata makzul berasal dari bahasa Arab معزول /ma`zul/ bentuk ism maf`ul (active participle) dari verba عزل /`azala/ yang bersinonim dengan /khala`a/ = mencopot.

Bagi Anda yang mengetahui bahasa Arab harus bersyukur bahwa kata makzul dan bentuk derivasinya mengandung makna lebih dibandingkan kata mencopot. Memberhentikan seorang yang memiliki jabatan tinggi seperti raja, presiden atau wakilnya digunakan kata memakzulkan dan bukannya mencopot. Nuansa makna luhur ini juga terasa ketika kita menggunakan kata nikah dan kawin. Seorang jejaka dinikahkan dengan seorang gadis, tetapi kucing jantang dikawinkan dengan kucing betina. Dari sisi ini kita memang bersyukur, tetapi sekaligus prihatin bahwa orang-orang berkuasa mendapat perlakuan linguistik yang berbeda dengan para wong cilik.

Saturday, January 2, 2010

BAHASA MENUNJUKKAN HARGA

Pekuburan atau kompleks makam dikenal dengan Taman (Tempat) Pemakaman Umum yang disingkat menjadi TPU. Di Jakarta, misalnya, ada TPU Tanah Kusir, TPU Karet. Selain TPU juga terdapat tempat pemakaman di lahan wakaf dari seseorang. Tempat pemakaman seperti ini tentu saja tidak dikelola oleh pemerintah. Sama halnya dengan tanah pemakaman milik pribadi di banyak daerah.

Saya pernah mendengar bahwa di Jakarta, bukan hanya orang hidup yang susah, tetapi juga orang mati. Jika orang meninggal dunia di Jakarta, ia sedikitnya harus meninggalkan sejumlah uang di atas lima jutaan jika dirinya ingin dikuburkan di wilayah Jakarta. Keluarga yang ditinggalkan pun harus bersiap-siap mengeluarkan sejumlah uang untuk sewa tanah dan upah kepada petugas kebersihan TPU. Karena berada di bawah pengelolaan pemerintah dan adanya iuran dari keluarga almarhum, kondisi makam yang berada di TPU pada umumnya bersih dan rapih, berbeda dengan makam yang berada di area pribadi.

Nah, berbicara tentang Taman Pemakaman Umum ini, sejak tahun 2007 orang-orang berduit di Indonesia kini punya tempat alternatif jika dirinya meninggal kelak. Mereka akan mendapat lokasi yang jauh lebih baik dari TPU. Meskipun berlokasi di daerah Karawang, Jawa Barat, nama pekuburan tersebut sama sekali tidak mencerminkan budaya lokal:

SAN DIEGO HILLS

MEMORIAL PARK & FUNERAL HOMES

Sehingga sangat wajar jika mengklaim "there is no other cemetery like this..."
Sekali lagi, tempat pemakaman ini terletak di daerah Karawang, Jawa Barat. Dengan menggunakan bahasa Inggris seperti ini tentu saja segmen pasar yang dibidik bukanlah penduduk sekitar. Untuk ukuran makam termurah seluas 1,5 x 2,6 meter dipatok harga Rp. 8 juta. Yang termahal mencapai ratusan miliar rupiah. Konon sudah banyak pejabat terkenal dari negeri ini yang sudah memesan kavling di pemakaman mewah ini. Nah, jika harga yang paling murah adalah Rp. 8 juta adalah sangat wajar jika pemakaman ini diberi nama San Diego Hills dan bukannya Bukit Citayam, misalnya. Bahasa memang benar menunjukkan harga.