Saturday, November 22, 2008

LAPANGAN PERJUANGAN

Trio Terpidana Mati Kasus Bomb Bali 1, Imam Samudra cs kini telah berbaring dalam liang lahad. Mereka, keluarga dan para pengagumnya yakin bahwa mereka mati syahid. Seorang rekan yang katanya menyaksikan pemakaman Imam Samudra mengatakan bahwa ketika jenazah Imam Samudra hendak dimasukkan ke dalam kubur, tercium bau wangi semerbak. Benar-tidaknya, wallahu a`lam.

Bagi Imam Samudra dan yang sefaham dengannya, meledakkan bomb di tengah keramaian dan menewaskan orang-orang yang tak berdosa itu adalah bentuk jihad. Mereka yang terkapar dan terluka adalah orang-orang kafir, meskipun beberapa di antara mereka tentu saja ada orang yang beragama Islam. Faham yang selama ini saya anut adalah bahwa Islam itu agama yang mengajarkan kelembutan dan kesantunan. Islam yang berakar dari huruf-huruf Sin-Lam-Mim mempunyai makna dasar "damai, lemah-lembut dan halus".

Kepercayaan yang sudah menjadi keyakinan memang akan mengakar dalam diri seseorang, sebagaimana kepercayaan terhadap faham perjuangan atau jihad yang dianut oleh Imam Samudra dkk. Juga seperti yang dianut oleh beberapa orang yang merasa dirinya berhasil "berjuang" dalam bidang tertentu. Di antara mereka, adalah seorang pimpinan pondok pesantren yang begitu yakin bahwa perjuangannya memimpin dan mengembangkan pondok pesantren merupakan perjuangan yang paling benar. Menurutnya, berjuang atau berjihad di luar pondok pesantren "non-sense" dan tidak akan mendatangkan berkah. Benarkah demikian?

Lapangan perjuangan untuk mencari rido Allah itu sangat beragam, tidak hanya milik orang yang dikenal dengan kiyai, alim ulama, ajengan atau ustaz. Tidak mustahil orang-orang yang memiliki gelar itu malahan akan menjadi orang yang berada di barisan terdepan yang mengantri masuk jurang api neraka. Setidaknya itu yang kita fahami dari sebuah hadis sahih yang mengatakan bahwa di antara orang yang paling pertama dilempar ke api neraka adalah seorang yang mati di medan perang melawan orang kafir. Setelah diperiksa, ternyata niat orang tersebut adalah karena ingin disebut sebagai seorang syahid. Seorang yang dikenal penghafal al-Quran juga menjadi orang yang pertama masuk neraka karena niat menghafal al-Qurannya itu ternyata sekadar ingin dipuji.

Kedua jenis orang yang sepintas sepertinya calon tetap penghuni surga ini tentunya tidak lebih baik dari seorang dokter kepala rumah sakit bersalin yang telah menyelamatkan nyawa ratusan ibu yang melahirkan dan anaknya. Ketika kebanyakan rumah sakit bersalin meminta uang muka kepada semua ibu yang hendak melahirkan dan kalau sang ibu ini tidak memberinya uang muka, ia akan ditolak untuk melahirkan di rumah sakit itu, maka rumah sakit bersalin yang dipimpin oleh dokter yang saleh ini tidak demikian. Semua stafnya telah diberi pengarahan agar melakukan pertolongan terlebih dahulu. Urusan administrasi, belakangan. Subhanallah.

Seorang dokter akan lebih dijamin masuk sorga jika dalam pekerjaannya itu ia berniat untuk mencari keridoan Allah yang bukan berarti bahwa orang yang berobat kepadanya harus gratis. Orang yang tidak dibayar belum tentu hatinya ikhlas dan seorang profesional yang menjual jasanya tidak identik bahwa pekerjaannya itu tidak ikhlas. Masalah ikhlas tidak ada hubungannya dengan dibayar-tidaknya.

Seorang pedagang yang jujur, sejujur Nabi Muhammad SAW, tentunya akan lebih dipastikan masuk sorga karena ia telah menjadi mata-rantai ekonomi yang bersih, bebas dari tipu-daya. Bidang usahanya telah menyediakan lapangan pekerjaan dan sumber ekonomi bagi keluarga dan masyarakatnya.

Seorang arsitek bangunan juga akan lebih dipastikan masuk sorga jika dalam melaksanakan profesinya itu ia juga mengharap rido Allah. Ketika mengetahui bahwa anggaran proyek pembangunan sebuah masjid atau asrama di sebuah pondok pesantren hendak digelembungkan misalnya, dengan pengalaman dan kemampuannya, ia dengan berani dan tetap santun menegur pimpinan proyek bahwa penggelembungan dana itu tidak benar, maka tegurannya ini bagian dari nahi mungkar.

Agama Islam berkembang dan terus jaya bukan saja karena jasa para ulama dalam pengertian sempit, yaitu mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam seperti pondok pesantren dan sejenisnya. Orang-orang yang beragama Islam dengan latar belakang pendidikan dan profesi yang beranekaragam turut berjasa pula. Bahkan orang-orang Cina yang tidak beragama Islam sekali pun. Andil mereka cukup besar dalam kejayaan Islam. Di pasar tradisional Mekkah, Madinah dan Tanah Abang banyak dijual aneka perlengkapan ibadah buatan Cina. Mulai dari sajadah, tasbih, baju gamis, hingga kerudung.

Jadi, apapun profesi yang Anda geluti sekarang ini... Anda layak disebut pejuang Islam, jika diniatkan li-llaahi ta`ala dan tulus ikhlas itu sama sekali tidak identik dengan gratis dan tanpa dibayar.

1 comment:

humas said...

Jazakallah atas tulisannya Pak.
Inspiratif