Saturday, October 3, 2009

DARI HOTEL SENTRAL HINGGA PUNCAK


Telah lama masyarakat mengetahui bahwa di hotel Sentral yang terletak di Jalan Pramuka, Jakarta Timur ini sering terjadi transaksi seks. Hotel yang tepat di bawahnya terdapat sebuah masjid itu, menjadi salah satu tempat persinggahan turis Timur Tengah, khususnya dari Saudi Arabia. Konon, hotel ini milik "urang awak" yang negerinya sedang mengalami musibah itu. Semoga hati nuraninya terketuk dengan adanya gempa yang memporakporandakan daerah asal Buya Hamka tersebut.


Tulisan di bawah saya kutip dari sebuah milist yang menyebutkan keterkaitan Hotel Sentral dengan transaksi esek-esek tersebut.


Sahabat milis, Bung Abu Qosim

Betul sekali apa yang anda tulis, Radar Bogor pernah menulis mengenai Tamasya Sex para touris Saudi-Yaman dll di daerah Warung Kaleng dan sekitarnya di daerah Tugu.

Malahan sudah beberapa kali sejak beberapa tahun sebelumnya pernah juga dimuat di Radar Bogor oleh wartawan Radar sdr.Wawan.

Saya juga pernah dengan Sdr.Wawan menelusuri daerah itu (Warung Kaleng) untuk melihat secara "on the spot" apa yang ditulis sdr.Wawan. Kita akan memasuki suatu daerah dimana Money Changer ditulis juga dalam bahasa Arab untuk mempermudah transaksi keuangan yang diperlukan para torist tsb.

Supply tourist bisa datang langsung dari negara asal di Arab melalui Cengkareng atau transit dulu di hotel Central di Jakarta dan beberapa hotel di Cikini maupun Jl.Pramuka

Ketika saya kedaerah itu ( Warung Kaleng) saya menemui banyak sohib kita yang menjadi tourist guide yang kebetulan tinggal di daerah Empang, guide "komplit" lah...

Mengatur semua akomodasi sampai intertainmentnya, saya bertemu dengan supplier Wiskey......dan para tamu dari Arab tsb nyatanya sangat gemar Johnny Walker Black Label. Untung besar sekali kawan supplier yang satu ini,....anak Medan yang merantau ke Bogor, sering mentraktir saya makan nasi Kabuli di restoran a la Timur Tengah di Cipayung. Supplier "calon istri" -pun berkeliaran dengan bebas, semua orang tahu dan tidak ada yang mengusiknya.


Saya geleng geleng kepala melihat aktivitas sohib sohib kita para guide"... karena tidak jarang kita bertemu ketika perayaan Mauludan didaerah Empang,atau malahan ketika ada penyerangan tempat tempat maksiat didaerah Gadog (gang semen) beberapa tahun lalu. Orang orang yang sama adalah otak dibelakang itu semua, dan orang orang yang sama saya temui di organisasi "anti maksiat" yang kita kenal.........berbaur diantara masa.

Rupanya aksi pembakaran -perusakan tempat maksiat lebih condong untuk menghancurkan "saingan bisnis" ketimbang anti porno aksi atau pornografi (istilahnya

sekarang). Jika pertanyaan Bung Qosim, mengapa golongan atau ormas tertentu merusak disuatu tempat maksiat, tetapi tidak merusak ditempat lainnya, pasti ada "uang jago"atau uang "tahu sama tahu" sudah dilunasi. Persaingan sudah diatur agar sesama "pengusaha " tidak saling "mendahului".

Saya rasa kita semua faham mengenai hal itu, kecuali kita masih mau "munafik dan membela beberapa ormas karena tindakannya yang "se-akan akan" anti maksiat.

Semua urusan "fulus"............... Semua pengusaha hotel, losmen, guess house dari Gadog sampai Puncak faham kepada siapa atau kaki tangan siapa mereka harus bayar uang jago atau "izin usaha" prostitusi terselubung.

Jika anda pasang spanduk reklame ditiang listrik di daerah Gadok sampai Puncak, bukan saja pajak resmi yang anda bayar, juga "pajak jagoan",...jika anda tidak bayar pajak jago tsb dalam waktu 5 menit spanduk anda diturunkan dan hilang,...., kecuali anda bernasib baik.

Tidak percuma Anton Medan memiliki pesantren didaerah itu,.......Johny Indo juga sekarang bergelar "Da'i Kondang", juga ada disekitar daerah itu dan di Cicurug. Semua demi "fulus"....bukan karena anti porno aksi atau pornografi. Si'ar dakwah agama tidak jarang digunakan sebagai tameng untuk keuntungan finansial, atau malahan melegalisir "women traficking" malahan children traficking. Memang kita tidak bisa mengawasi semua dengan ketat dan seksama.

Cobalah jalan jalan kedaerah Tugu, sebelum KFC, desa Warung Kaleng.

http://www.mail-archive.com/proletar@yahoogroups.com/msg23051.html

PESAN DARI URANG AWAK


Musibah yang menimpa Sumbar dan sekitarnya memang dapat
dikaji secara ilmiah bahwa telah terjadi pergerakan lempengan bumi.
Namun, kita juga harus menyadari bahwa semua yang terjadi
di dunia ini tidak terjadi begitu saja: Ada yang mengatur.
Allah Yang menciptakan dan Allah jualah yang mengatur segalanya.

Sebuah pengakuan tulus dari "urang awak" patut kita jadikan
pelajaran bagi kita semua.











"ambo kiro kini ko kampung awak yo rantau badaket bana,
jadi parilaku urang awak di kampung dipengaruhi pulo dek
kalakuan urang awak di rantau , sarupo di Jakarta misalnyo.
Kalau awak namuah jujur kalakuan maksiat urang awak di Jakarta tamasuak parah juo. cubo lah pai ka pasar senen yg manjual VCD Porno banyak nan pedagang kaki limo urang awak.

Salah satu hotel tempat maksiat di Jakarta ( hotel Sentral di Jl Pramuka- Jakarta Timur) nan punyo nyo urang awak juo salah satu Cafe tempat maksiat di Jakarta ( ambo lupo namonyo ) dimiliki pulo dek urang awak. pokoknya ado juo peran urang awak nan mantiko di dunia maksiat di Jakarta salah satu artis maksiat nan banyak foto gambar "hot" nyo namonya adolah Liza Chaniago. ( mohon maaf ) Nah kalakuan maksiat urang awak di rantau khususnya Jakarta nan cukup parah itu mudah bana manyebar ka kampuang awak.

Ado kawan ambo dari IPB mangecek kan bahwa sabananyo urang awak ko potensi maksiat nya tinggi,kareno banyak mamakan makanan yg mengandung daging dan makanan lain yg cepat meningkatkan potensi libido ( syahwat). hanyo dek agamo yg kuet lah potensi itu bisa tajago.

Kini urang awak lah jauh dari agamo, jadi bantuak itu lah jadinyo. sakian dulu dari ambo, mungkin taraso padiah tapi awak harus jujur ka diri awak surang"

wassalam
Malin Muncak
http://www.mail-archive.com/rantau-net@rantaunet.com/msg05645.html

Sunday, September 20, 2009

KETIKA MEREKA JAUH DARI KITA


Jakarta dan kota-kota besar lainnya, pada masa liburan panjang seperti ini, liburan Idul Fitri, jalan-jalan protokol tampak lengang. Mayoritas penghuninya mudik, tidak terkecuali mereka yang selama ini sangat berarti kehadirannya: Para pembantu rumah tangga (PRT) dan petugas kebersihan.

Bagi kaum berpunya yang sehari-harinya sangat bergantung kepada para PRT, ketidakhadiran mereka cukup membuat kaum berduit ini cukup merepotkan. Di antara mereka rela mengeluarkan kocek cukup dalam untuk menggaji PRT infal yang disediakan oleh sejumlah perusahaan penyalur. Di antara para kaum berduit ini juga ada yang escape dari kerepotan tahunan ini dengan menginap di hotel. Namun tidak sedikit pula yang memanfaatkan kehadiran sejumlah anggota keluarga yang memang sedang berkumpul saat liburan panjang seperti ini. Beruntunglah bagi keluarga yang mempunyai anak banyak (dan tentunya mereka tergolong anak-anak saleh). Beban sang ibu terbantu oleh tenaga sang buat hati. Mulai dari mencuci, menstrika, mengepel lantai hingga mengurus tanaman kesayangan. Demikian, mudiknya para PRT dapat diselesaikan dengan berbagai cara seperti ini. Namun tidak demikian dengan mudiknya para petugas kebersihan. Lihatlah pemandangan di sejumlah tempat yang biasanya tampak nyaman dipandang: sampah menumpuk di mana-mana.

Apakah Dinas Kebersihan tidak memiliki dana untuk menyewa para petugas infal seperti halnya kaum berduit menyewa PRT infal?

Saya yakin, jika memang pemerintah mengalokasikan dana untuk tetap menjaga kebersihan daerahnya, banyak orang yang akan berminat sebagai tenaga infal.

Semoga tulisan ini menjadi sumber inspirasi bagi para pembuat kebijakan di negeri ini.

Semoga.

Monday, September 14, 2009

Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling Oleh: Taufiq Ismail

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.

Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.
Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa.
Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.
Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.

Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia , sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang,
melimpah dari atas sampai ke bawah,
tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.

Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi
dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata
dan yang memerintah.
Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.

Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti dinding keraton, tak mempan dihantam gempa dan
banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini,
meliputi mereka yang pegang kendali perintah,
eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis,
yang pegang pestol dan mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?
Percuma
Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.

Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau
dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan
jarahan yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga,
orang yang berpuasa juga,
orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita,
ada hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.

Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah, kita cenderung menutup-nutupi fakta,
lalu dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.
Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang, kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.
Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis
dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
"Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya! " teriak mereka.
"Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku.

Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.
Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.
Mereka menangkapku.
"Ambil bensin!" teriak seseorang.
"Bakar Rayap," teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.
Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara


Wednesday, September 2, 2009

NDESO

"NDESO"
oleh : Ika S. Creech *)

Ndeso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan
mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus
mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau
bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni
dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana
pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand.
Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator,
mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di
Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan
Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di
Mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala negara, punya hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya?

Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak
yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan
tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam
menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak
maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau
bahkan mengikut negara maju.

Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara
anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari
atas sampai bawah :
- Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli
minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit
di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
- Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di
acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo
perlu jin Tomang jg digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere,
maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di
Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.

Tuesday, June 9, 2009

E-MAIL DARI SABRIE SHAFII

Sdr.
Yang saya cari kebenaran dan keikhlasan.
Dalam hal Tengku Temenggong Kelantan dan Manohara, FITNAH menjadi puncanya.
TT yang tersangat sayang pada isterinya Manohara, diambil kesempatan oleh Dasiy untuk memenohi apa yang dihajati, mahu Manohara selalu disampingnya, mahu kemudahan dan mahu enjoy seperti masa mudanya.

Saya sebanyak 7 kali ditipu oleh Dasiy setelah saya ke Jakarta dari bulan Oktober 2008 hingga Februari 2009 kerana ingin menyelamat MASJID yang dibina antara TT dan Manohara atas landasan CINTA sama CINTA.

Cerita dianaiya, di silet-silet, disuntik humor sehingga muntah, di sterika, di kurang dan dipaksa senyum, itu semuanya adalah FITNAH, tidak ada perkataan yang boleh saya tuturkan, tapi dari segi logiknya, adakah orang yang disiksa tidak mahu mendapat keadilan dan untuk mendapat keadilan didunia ini ianya mestilah disertakan dengan bukti-bukti.
Tapi apa yang berlaku, Manohara tidak ke dactor untuk melayakkan dia sebagai seorang yang disiksa, tapi ke MEDIA untuk berhibur dan mem buat tuduhan. Inilah perkara yang tidak adil dilakukan oleh Manohara dalam ertinya tidak ada keikhlasan dalam dirinya.
Tolong berlaku adillah kepada TT, beliau adalah orang baik dan niatnya memperisterikan Manohara untuk membawa Manohara kejalan yang benar, jalan yang di redhai oleh ALLAH swt, diberinya ustazah untuk mengajarkan sembahyang dan hukum hakam dalam Islam dan sesuai dengan kecantikan rupa parasnya dianugerahkan tittle Cik Puan Temenggong serta diberi kemewahan hidup.
Manohara dikira salah seorang rakyat Indonesia yang beruntung kerana telah menjadi Isteri kepada kerabat D'Raja Kelantan yang tentunya kehidpuan turun temurun akan sentiasa senang, tapi segalanya adalah kehendak ALLAH, jika ditakdirkan mereka berpisah, jangan dijadikan alasan untuk rakyat Indonesia membenci orang Malaysia. Dalam hal TT dan Manohara ini yang sebetulnya bermasaalah ialah Dasiy Fajarina yang telah terbukti bersalah kerana menyeksa SALIHAH dan dijatuhkamn hukuman selama 18bulan oleh mahkamah perancis.
Kenapa tidak ada rakyat Indonesia membela SALIHAH yang terang disiksa oleh Dasiy Fajarina, tapi sebaliknya menyokong FITNAH yang dibuat oleh Dasiy Fajarina terhadap TT. Sedangkan Manohara senang dan gembira hai ini.
Salam dan saya terima baik sekiranya Sdr ada saranan untuk TT dan Manohara.
saya tak ada niat lain, melainkan mempertahankan TT daripada diserang dan difitnah kerana saya tahu cerita dari awal perkenalan mereka berdua.

Saturday, May 30, 2009

BETAPA DAMAINYA INDONESIAKU SEANDAINYA....

Betapa damainya Indonesiaku seandainya....
Pasangan JK-Wiranto terpilih dari presiden dan wakil presiden nanti dan Megawati berkenan dengan kerendahan hatinya menjadi Menteri Luar Negeri, sebagaimana yang dilakukan Hillary Clinton, dan Prabowo menjadi menteri yang mengurusi bidang ekonomi dan dapat dibuktikan bahwa dirinya benar-benar memperjuangan kepentingan wong cilik. Lalu, dengan jiwa kenegarawanannya itu SBY dan Boediono berkenan menjadi menteri yang mengurusi bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat, membantu Prabowo, dan membuktikan bahwa keduanya betul-betul bukan penganut faham neo-liberalisme.


Betapa damainya Indonesiaku seandainya...
Pasangan SBY-Boediono menjadi presiden dan wakil presiden sementara Megawati berkenan menjadi Menteri Luar Negeri dan Prabowo menteri yang mengurusi ekonomi, Jusuf Kalla menjadi menteri kesejahteraan rakyat dan Wiranto kembali menjadi menteri pertahanan.

Betapa damainya Indonesiaku seandainya...
Megawati menjadi presiden dan Prabowo menjadi wakilnya, dan dengan segala kebesaran jiwa, SBY berkenan untuk tetap membantu mengurusi negara ini, apapun jabatannya. Boediono kembali menguri ekonomi dan berusaha membuktikan diri bahwa dirinya memang bukan penganut faham neo-liberalisme. Jusuf Kalla tanpa merasa tersingkirkan berkenan menjadi menteri atau pun apa jabatannya yang bertugas mempercepat pembangunan Indonesia tengah dan timur, dibantu Wiranto dengan latar belakang militernya.

Masalahnya,
bersediakan masing-masing untuk berjiwa besar dan bukan besar kepala?
Semoga Allah membimbing mereka kepada jalan yang diridoi-Nya. Amin.