Sunday, March 7, 2010

KENTALNYA LIDAH WARGA MALAYSIA


Suatu petang TV3, stasiun tv swasta Malaysia menayangkan acara berjudul "Jalan-jalan Cari Makan", semacam "Wisata Kulinernya" Pak Bondan. Pembawa acaranya seorang wanita muda dengan pakaian trendi, tanpa menutup aurat sebagai wanita Muslimah secara penuh. Rambutnya dipotong pendek. Serina Ridzuan, namanya. Ada satu hal yang membuat saya cukup terpukau adalah ketika si pembawa acara ini memancing dan umpan di kailnya, secara spontan dia berteriak, "`AUDZU BILLAHI MINASY SYAITHANIR RAJIM BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM" dengan ucapan yang sangat fasih. Ucapan spontan tersebut terlontar ketika seekor ikan besar menyambar mata pancing. Ucapan seperti itu -- bagi kita warga Indonesia -- mungkin sulit kita dengar dari para pembawa acara yang bukan berbau agama.

Ketakjuban saya semakin bertambah ketika bintang tamu dalam acara itu, yaitu seorang selebritis yang cukup terkenal hendak menyantap hidangan. Dengan serta merta pula dan dengan suara yang cukup lantang membaca doa sebelum makan. Sekali lagi, acara yang ditayangkan adalah semacam wisata kuliner, ditayangkan oleh tv swasta dan bukan dalam bulan puasa.

Simpulan yang saya peroleh, pendidikan agama di Malaysia sedemikian kuat sehingga membekas dalam diri warganya. Hal itu tampak pula dalam penggunaan nama asli mereka yang memang sangat kental berbau bahasa Arab, Siti Nurhaliza, misalnya. Artis jelita yang telah menjadi isteri seorang pengusaha ternama ini tanpa sungkan memanggil dirinya dengan "siti", nama yang bagi sebagian orang terdengar kampungan.

Wednesday, February 24, 2010

PEMAKZULAN: SEBUAH DISKRIMINASI LINGUISTIK

Masih ingat kasus kasus orang miskin yang mencuri buah kakao yang dimejahijaukan dan mendapat hukuman sekian tahun, sementara yang merampok uang rakyat trilyunan rupiah masih bebas berkeliaran?

Nasib wong cilik memang selalu terpinggirkan, bahkan bukan di mata hukum tetapi juga di mata bahasa. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sering mendengar kata-kata pemakzulan. Akar kata pemakzulan adalah makzul. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online disebutkan:

mak·zul v berhenti memegang jabatan; turun takhta;
me·mak·zul·kan v 1 menurunkan dr takhta; memberhentikan dr jabatan; 2 meletakkan jabatannya (sendiri) sbg raja; berhenti sbg raja;
pe·mak·zul·an n proses, cara, perbuatan memakzulkan


Kata makzul berasal dari bahasa Arab معزول /ma`zul/ bentuk ism maf`ul (active participle) dari verba عزل /`azala/ yang bersinonim dengan /khala`a/ = mencopot.

Bagi Anda yang mengetahui bahasa Arab harus bersyukur bahwa kata makzul dan bentuk derivasinya mengandung makna lebih dibandingkan kata mencopot. Memberhentikan seorang yang memiliki jabatan tinggi seperti raja, presiden atau wakilnya digunakan kata memakzulkan dan bukannya mencopot. Nuansa makna luhur ini juga terasa ketika kita menggunakan kata nikah dan kawin. Seorang jejaka dinikahkan dengan seorang gadis, tetapi kucing jantang dikawinkan dengan kucing betina. Dari sisi ini kita memang bersyukur, tetapi sekaligus prihatin bahwa orang-orang berkuasa mendapat perlakuan linguistik yang berbeda dengan para wong cilik.

Saturday, January 2, 2010

BAHASA MENUNJUKKAN HARGA

Pekuburan atau kompleks makam dikenal dengan Taman (Tempat) Pemakaman Umum yang disingkat menjadi TPU. Di Jakarta, misalnya, ada TPU Tanah Kusir, TPU Karet. Selain TPU juga terdapat tempat pemakaman di lahan wakaf dari seseorang. Tempat pemakaman seperti ini tentu saja tidak dikelola oleh pemerintah. Sama halnya dengan tanah pemakaman milik pribadi di banyak daerah.

Saya pernah mendengar bahwa di Jakarta, bukan hanya orang hidup yang susah, tetapi juga orang mati. Jika orang meninggal dunia di Jakarta, ia sedikitnya harus meninggalkan sejumlah uang di atas lima jutaan jika dirinya ingin dikuburkan di wilayah Jakarta. Keluarga yang ditinggalkan pun harus bersiap-siap mengeluarkan sejumlah uang untuk sewa tanah dan upah kepada petugas kebersihan TPU. Karena berada di bawah pengelolaan pemerintah dan adanya iuran dari keluarga almarhum, kondisi makam yang berada di TPU pada umumnya bersih dan rapih, berbeda dengan makam yang berada di area pribadi.

Nah, berbicara tentang Taman Pemakaman Umum ini, sejak tahun 2007 orang-orang berduit di Indonesia kini punya tempat alternatif jika dirinya meninggal kelak. Mereka akan mendapat lokasi yang jauh lebih baik dari TPU. Meskipun berlokasi di daerah Karawang, Jawa Barat, nama pekuburan tersebut sama sekali tidak mencerminkan budaya lokal:

SAN DIEGO HILLS

MEMORIAL PARK & FUNERAL HOMES

Sehingga sangat wajar jika mengklaim "there is no other cemetery like this..."
Sekali lagi, tempat pemakaman ini terletak di daerah Karawang, Jawa Barat. Dengan menggunakan bahasa Inggris seperti ini tentu saja segmen pasar yang dibidik bukanlah penduduk sekitar. Untuk ukuran makam termurah seluas 1,5 x 2,6 meter dipatok harga Rp. 8 juta. Yang termahal mencapai ratusan miliar rupiah. Konon sudah banyak pejabat terkenal dari negeri ini yang sudah memesan kavling di pemakaman mewah ini. Nah, jika harga yang paling murah adalah Rp. 8 juta adalah sangat wajar jika pemakaman ini diberi nama San Diego Hills dan bukannya Bukit Citayam, misalnya. Bahasa memang benar menunjukkan harga.


Monday, December 21, 2009

BAHASA ARAB TERANCAM PUNAH?


Berita cukup mengejutkan disampaikan oleh Prof Dr Ja`far Abdussalam, Sekjen Liga Universitas-universitas Islam: Bahasa Arab termasuk salah satu dari 27 bahasa di dunia yang terancam punah. Beliau menyampaikan berita itu merujuk data yang disampaikan UNESCO. Sebagai warga Mesir yang telah berkeliling ke berbagai pelosok dunia -- termasuk tentunya negara-negara Arab dan Islam -- menurutnya pernyataan lembaga PBB yang mengurusi bidang kebudayaan dan pendidikan ini tidaklah terlalu berlebihan. Kenyataan yang pernah beliau saksikan dengan mata kepalanya sendiri di beberapa negara Arab adalah bahwa memang bahasa Arab tidak mendapat perhatian yang semestinya dari bangsa Arab itu sendiri. Tidak sedikit orang-orang Arab yang lebih bangga berbicara dan menggunakan bahasa Inggris.

Berita tersebut disampaikan oleh Prof Dr Ja`far Abdussalam dalam sambutannya di Workshop Standardisasi Kemampuan Bahasa Arab Lulusan Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia. Workshop diadakan atas kerja sama antara dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI dengan Pusat Pengembangan Bahasa dan Budaya yang bertempat di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta yang berlangsung dari tanggal 21 hingga 23 Desember 2009.

Sejumlah pakar bahasa Arab di berbagai perguruan tinggi agama Islam hadir untuk berbagai pengalaman dalam pembelajaran bahasa Arab. Dari workshop ini diharapkan tercapai kesepakatan untuk disusunnya standardisasi kemampuan bahasa Arab seperti halnya TOEFL untuk bahasa Inggris.

Sepatutnya standardisasi ini dibuat oleh negara/pemerintah yang bahasa resminya adalah bahasa Arab. Namun sayang sekali hingga saat ini belum ada alat ukur kemampuan berbahasa Arab seperti TOEFL untuk bahasa Inggris. Kalaupun ada test kemampuan yang selama ini dikenal dengan Test of Arabic as Foreign Language (TOAFL) maka test ini dibuat oleh beberapa institusi tertentu. Misalnya UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Kalijaga, dan UIN Malang. Upaya gigih dari sejumlah pakar bahasa Arab yang berkebangsaan Indonesia ini setidaknya memperkuat keprihatinan Prof Dr Ja`far Abdussalam di atas.

Saturday, December 19, 2009

WORKSHOP ICT DI CIPASUNG


Sebanyak 6 orang dosen dan 10 orang mahasiswa Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Jurusan Pendidikan Bahasa Arab turut serta dalam Workshop Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis ICT yang diadakan selama dua hari, Sabtu-Ahad 19-20 Desember 2009. Workshop diadakan di Ruang Multimedia Gedung Perpustakaan IAIC.

Workshop dibuka secara resmi oleh Bapak H. Tatang Sunarya selaku sekretaris penanggung jawab Center of Exellent Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis ICT.

Workshop terselenggara atas undangan rekan al-Akh Ustaz Asep M Tamam, kandidat doktor bidang bahasa Arab di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selain atas undangan beliau, workshop ini juga terselenggara dengan baik atas jasa Ustaz Yusuf Ali, Ustaz Khairul Azami, Ustaz Jajang dan tidak lupa Mang Jajang.

Saturday, December 12, 2009

ULAH (OKNUM) BANGSA YANG SANTUN?

Rabu 9 Desember 2009, setelah beberapa saat menunggu, Kereta Api Argo Sindoro pun muncul. Panitia membelikan tiket kelas eksekutif (karena memang hanya kelas itulah yang ada dalam kereta api tersebut).


Interior Argo Sindoro tidak jauh berbeda dengan Argo Bromo Anggrek. Namun, begitu saya menempati tempat duduk, ada sesuatu yang cukup mengganggu pemandangan mata.


Kaca jendela dalam satu gerbong nyaris semuanya pecah. Apakah di gerbong lainnya juga seperti itu. Entahlah. Ketika saya tanyakan kepada petugas, biasanya "orang-orang biadab" itu melemparkan batu pada malam hari. Oh, apa salah benda yang bernama kereta api ini?

Saya pernah membaca berita tentang kaca jendela kereta api yang dilempar dan batunya mengenai penumpang. Tentu saja terluka.

Inikah cermin bangsa yang katanya dikenal santun itu?

Tuesday, December 8, 2009

AKRABI ICT UNTUK RAIH SKOR TOAFL TERTINGGI



Sebanyak 25 orang dosen STAIN Pekalongan dengan penuh antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan ICT untuk pembelajaran bahasa Arab dengan tema "Akrabi ICT untuk Meraih Skor Tertinggi". Pelatihan yang berlangsung hari Selasa 08 Desember 2009 dari jam 09.00 hingga 15.30 berlangsung di Gedung Perpustakaan Ruang Lab Internet. Udara panas -- karena memang ruangannya belum dipasang sistem pendingin -- tidak mengurangi minat para peserta. Saya yang sengaja diundang panitia sebagai nara sumberpun merasa sangat bahagian melihat antusias mereka ini.

Materi yang disampaikan di antaranya bagaimana menjadikan internet sebagai sumber pembelajaran bahasa Arab. Misalnya situs berita BBC Online yang menyediakan berbagai bahasa seperti bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Teks dalam kedua bahasa tersebut sering tampak seperti terjemahan. Banyak frasa yang sepadan, bahkan tidak jarang satu paragraf penuh tampak seperti hasil penerjemahan.

Materi lain adalah pemanfaatan parabola. Dengan menggunakan alat yang disebut DVB World, siaran parabola dapat dilihat lewat komputer dan disimpan dalam hard disk.

Atas keberhasilan pelaksanaan penataran ini secara pribadi saya ucapkan banyak terima kasih kepada panitia, utamanya kepada al-Akh Muhandis Az Zuhri (sekretaris panitia), kepada al-Akh Miftahul Ula (ketua), al-Akh Abdul Aziz (Ketua UPB) dan tak lupa kepada Mas Eka yang telah banyak membantu menginstal dan menyeting beberapa program untuk terlaksananya pelatihan ini.