"NDESO"
oleh : Ika S. Creech *)
Ndeso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan
mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.
Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.
Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana
pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.
Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso siapa yaa?
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.
Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di masjid.
Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala negara, punya hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya?
Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.
Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam
menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak
maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju.
Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara
anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari
atas sampai bawah :
- Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
- Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalo perlu jin Tomang jg digandeng
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.
*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.
Wednesday, September 2, 2009
NDESO
Tuesday, June 9, 2009
E-MAIL DARI SABRIE SHAFII
Sdr.
Yang saya cari kebenaran dan keikhlasan.
Dalam hal Tengku Temenggong Kelantan dan Manohara, FITNAH menjadi puncanya.
TT yang tersangat sayang pada isterinya Manohara, diambil kesempatan oleh Dasiy untuk memenohi apa yang dihajati, mahu Manohara selalu disampingnya, mahu kemudahan dan mahu enjoy seperti masa mudanya.
Saya sebanyak 7 kali ditipu oleh Dasiy setelah saya ke Jakarta dari bulan Oktober 2008 hingga Februari 2009 kerana ingin menyelamat MASJID yang dibina antara TT dan Manohara atas landasan CINTA sama CINTA.
Cerita dianaiya, di silet-silet, disuntik humor sehingga muntah, di sterika, di kurang dan dipaksa senyum, itu semuanya adalah FITNAH, tidak ada perkataan yang boleh saya tuturkan, tapi dari segi logiknya, adakah orang yang disiksa tidak mahu mendapat keadilan dan untuk mendapat keadilan didunia ini ianya mestilah disertakan dengan bukti-bukti.
Tapi apa yang berlaku, Manohara tidak ke dactor untuk melayakkan dia sebagai seorang yang disiksa, tapi ke MEDIA untuk berhibur dan mem buat tuduhan. Inilah perkara yang tidak adil dilakukan oleh Manohara dalam ertinya tidak ada keikhlasan dalam dirinya.
Tolong berlaku adillah kepada TT, beliau adalah orang baik dan niatnya memperisterikan Manohara untuk membawa Manohara kejalan yang benar, jalan yang di redhai oleh ALLAH swt, diberinya ustazah untuk mengajarkan sembahyang dan hukum hakam dalam Islam dan sesuai dengan kecantikan rupa parasnya dianugerahkan tittle Cik Puan Temenggong serta diberi kemewahan hidup.
Manohara dikira salah seorang rakyat Indonesia yang beruntung kerana telah menjadi Isteri kepada kerabat D'Raja Kelantan yang tentunya kehidpuan turun temurun akan sentiasa senang, tapi segalanya adalah kehendak ALLAH, jika ditakdirkan mereka berpisah, jangan dijadikan alasan untuk rakyat Indonesia membenci orang Malaysia. Dalam hal TT dan Manohara ini yang sebetulnya bermasaalah ialah Dasiy Fajarina yang telah terbukti bersalah kerana menyeksa SALIHAH dan dijatuhkamn hukuman selama 18bulan oleh mahkamah perancis.
Kenapa tidak ada rakyat Indonesia membela SALIHAH yang terang disiksa oleh Dasiy Fajarina, tapi sebaliknya menyokong FITNAH yang dibuat oleh Dasiy Fajarina terhadap TT. Sedangkan Manohara senang dan gembira hai ini.
Salam dan saya terima baik sekiranya Sdr ada saranan untuk TT dan Manohara.
saya tak ada niat lain, melainkan mempertahankan TT daripada diserang dan difitnah kerana saya tahu cerita dari awal perkenalan mereka berdua.
Saturday, May 30, 2009
BETAPA DAMAINYA INDONESIAKU SEANDAINYA....
Betapa damainya Indonesiaku seandainya....
Pasangan JK-Wiranto terpilih dari presiden dan wakil presiden nanti dan Megawati berkenan dengan kerendahan hatinya menjadi Menteri Luar Negeri, sebagaimana yang dilakukan Hillary Clinton, dan Prabowo menjadi menteri yang mengurusi bidang ekonomi dan dapat dibuktikan bahwa dirinya benar-benar memperjuangan kepentingan wong cilik. Lalu, dengan jiwa kenegarawanannya itu SBY dan Boediono berkenan menjadi menteri yang mengurusi bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat, membantu Prabowo, dan membuktikan bahwa keduanya betul-betul bukan penganut faham neo-liberalisme.
Betapa damainya Indonesiaku seandainya...
Pasangan SBY-Boediono menjadi presiden dan wakil presiden sementara Megawati berkenan menjadi Menteri Luar Negeri dan Prabowo menteri yang mengurusi ekonomi, Jusuf Kalla menjadi menteri kesejahteraan rakyat dan Wiranto kembali menjadi menteri pertahanan.
Betapa damainya Indonesiaku seandainya...
Megawati menjadi presiden dan Prabowo menjadi wakilnya, dan dengan segala kebesaran jiwa, SBY berkenan untuk tetap membantu mengurusi negara ini, apapun jabatannya. Boediono kembali menguri ekonomi dan berusaha membuktikan diri bahwa dirinya memang bukan penganut faham neo-liberalisme. Jusuf Kalla tanpa merasa tersingkirkan berkenan menjadi menteri atau pun apa jabatannya yang bertugas mempercepat pembangunan Indonesia tengah dan timur, dibantu Wiranto dengan latar belakang militernya.
Masalahnya,
bersediakan masing-masing untuk berjiwa besar dan bukan besar kepala?
Semoga Allah membimbing mereka kepada jalan yang diridoi-Nya. Amin.
Pasangan JK-Wiranto terpilih dari presiden dan wakil presiden nanti dan Megawati berkenan dengan kerendahan hatinya menjadi Menteri Luar Negeri, sebagaimana yang dilakukan Hillary Clinton, dan Prabowo menjadi menteri yang mengurusi bidang ekonomi dan dapat dibuktikan bahwa dirinya benar-benar memperjuangan kepentingan wong cilik. Lalu, dengan jiwa kenegarawanannya itu SBY dan Boediono berkenan menjadi menteri yang mengurusi bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat, membantu Prabowo, dan membuktikan bahwa keduanya betul-betul bukan penganut faham neo-liberalisme.
Betapa damainya Indonesiaku seandainya...
Pasangan SBY-Boediono menjadi presiden dan wakil presiden sementara Megawati berkenan menjadi Menteri Luar Negeri dan Prabowo menteri yang mengurusi ekonomi, Jusuf Kalla menjadi menteri kesejahteraan rakyat dan Wiranto kembali menjadi menteri pertahanan.
Betapa damainya Indonesiaku seandainya...
Megawati menjadi presiden dan Prabowo menjadi wakilnya, dan dengan segala kebesaran jiwa, SBY berkenan untuk tetap membantu mengurusi negara ini, apapun jabatannya. Boediono kembali menguri ekonomi dan berusaha membuktikan diri bahwa dirinya memang bukan penganut faham neo-liberalisme. Jusuf Kalla tanpa merasa tersingkirkan berkenan menjadi menteri atau pun apa jabatannya yang bertugas mempercepat pembangunan Indonesia tengah dan timur, dibantu Wiranto dengan latar belakang militernya.
Masalahnya,
bersediakan masing-masing untuk berjiwa besar dan bukan besar kepala?
Semoga Allah membimbing mereka kepada jalan yang diridoi-Nya. Amin.
Tuesday, May 26, 2009
SEANDAINYA BUKAN GOLKAR
Terus terang penampilan pasangan JK-WIN yang didampingi isteri masing-masing dengan busana muslimah itu telah banyak mempengaruhi para pemilih dari kalangan umat Islam. Para simpatisan PKS, kendati sejumlah petingginya telah menandatangani dukungan secara resmi, konon banyak yang mengalihkan dukungannya kepada pasangan Bugis-Jawa itu.
Jika Universiti Malaya, Malaysia memberikan gelar kehormatan doktor kepada JK -- terlepas dari muatan politik atau tidaknya-- tidaklah berlebihan. Putra Bugis ini memang telah malang-melintang di dunia bisnis sejak lama. Keluarga Haji Kalla di Makassar telah lama dikenal sebagai konglomerat berhasil. Ketika pertama kali mendengar -- puluhan tahun lalu -- nama Jussuf Kalla aktif berkecimpung di Golkar, saya bertanya-tanya, "Buat apa pengusaha seperti JK ini mau-maunya bergelut dalam politik?". Sebagai orang awam dalam bidang bisnis, kesimpulan yang paling mudah ditarik adalah bahwa politik diperlukan untuk melancarkan kegiatan bisnis, karena politik sangat dekat dengan kekuasaan yang diperlukan untuk menjalankan bisnis apapun.
JK memilih Golkar karena waktu itu, selama puluhan tahun bahkan sejak partai ini enggan disebut sebagai partai politik, padahal lebih jahat dari partai politik manapun, adalah partai yang kekuasaannya seakan-akan tidak akan pernah tergoyahkan. Bayangkan saja, dari mulai presiden hingga ketua RT/RW turut serta memaksa warga untuk memilih Golkar. Agar urusan di kelurahan dan desa lancar, aparat kelurahan dan desa membuat warganya terpaksa memilih Golkar. Belum lagi aparat militer di Koramil dan Kodim, karena petingginya (Jenderal Hartono) sempat menyatakan bahwa ABRI mendukung Golkar sepenuhnya.
Di desa-desa terpencil masih terlihat jejak ketidakberpihakan Golkar kepada rakyat. Desa yang warganya banyak memilih PPP -- waktu itu -- kondisinya pasti memprihatinkan. Jalan desa dibiarkan banyak berlubang dan selama puluhan tahun hanya dibuat dari batu koral, sedangkan desa di mana Golkar menang, jalan aspal plus fasilitas PLN dapat dinikmati warganya.
Secara pribadi, saya pernah merasakan cengkraman kuku kekuasaan Golkar ini. Sepulang dari kuliah di Madinah, saya diminta memberikan kultum menjelang salat tarawih di masjid agung, masjid tempat saya mengaji semasa SD. Tanpa ada tendensi apapun, saya menyampaikan pengalaman belajar di tanah suci selama empat tahun. Dalam ceramah tersebut wajar jika saya menceritakan bagaimana nikmatnya dapat menjalankan ibadah umrah setiap saat. Dapat mencium hajar aswad kapan pun, tanpa harus berdesak-desakan seperti musim haji. Nah, ketika saya bercerita tentang Masjid Haram, tentunya saya juga menceritakan tentang Ka'bah yang menjadi simbol pemersatu umat Islam di seluruh dunia. Ternyata, pembicaraan tentang Ka'bah ini membuat ketua DKM setempat yang dikenal sebagai dedengkot Golkar, membuat dirinya gerah dan risau. Sejak itu, saya dicekal. Menurut jamaah, kultum saya berisi propaganda PPP, padahal samas sekali saya tidak mengenal politik waktu itu. Selama empat tahun berada di kampus Universitas Islam di Madinah itu, para mahasiswa sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia politik manapun.
Pengalaman pahit serupa saya temukan pada masa kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Banten (ini yang benar, bukannya Jakarta). Setelah puluhan tahun meninggalkan pergururuan tinggi yang kini dikenal dengan UIN itu, salah seorang sahabat menceritakan apa yang pernah dibicarakan di kalangan para dosen semasa saya kuliah. Karena prestasi saya dianggap bagus (waktu wisuda, saya terpilih menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3.46), saya dinominasikan untuk dijadikan dosen tetap dan akan dikirim ke Canada, seperti beberapa dosen yang berprestasi lainnya. Bapak dekan waktu itu memang pernah memanggil saya agar mengajukan lamaran untuk menjadi dosen, tetapi saya menyatakan tidak bersedia. Ketika saya terpilih sebagai lulusan terbaik waktu itu, tentunya saya bersyukur, tetapi tanpa sedikitpun merasa bangga. Adalah sangat wajar jika saya mendapatkan nilai paling tinggi di antara seangkatan semua, karena saya kuliah selama dua tahun ini hanya mengulang pelajaran sewaktu mondok di Pondok Modern Gontor dan di Universitas Islam, Madinah itu. Hanya beberapa mata kuliah saja yang perlun dipelajari agak serius, karena memang belum pernah ditemukan selama ini.
Entah karena penolakan saya untuk mengajukan lamaran menajdi dosen itu atau karena hal lainnya, yang jelas menurut sahabat saya itu, saya tidak jadi dipilih untuk jadi dosen dan dipilih untuk dikirim ke Canada, karena saya dianggap sebagai seorang ekstrimis. Sebagai alumni Timur Tengah, pemikiran saya dianggap berseberangan dengan orang-orang IAIN waktu itu yang nyaris menjadi corong Golkar. Wajar jika mereka beranggapan seperti itu, karena menjelang sidang skripsi, saya dengan sangat terpaksa harus mengikuti penataran P4. Tanpa sertifikat P4 ini, mahasiswa tidak boleh mengikuti ujian.
Nah, dalam satu sesi yang menghadirkan rektor, emosi saya sempat terpancing. Rektor perguruan tinggi Islam ini dengan entengnya mengatakan, bahwa Islam Pancasilalah yang paling sesuai untuk warga Indonesia dan bukannya Islam yang berada di Saudi Arabia. Kemudian, sang rektor ini mengatakan bahwa mengapa para wanita di Saudi Arabia diharuskan menutup tubuhnya sedemikian rupa. Alasannya karena para lelaki Arab itu begitu melihat betis perempuan saja, matanya langsung ijo. Berbeda dengan lelaki Indonesia. Dalam kesempatan tanya-jawab, saya dengan nada emosi, mempertanyakan apakah memang ada bukti ilmiah kalau lelaki Indonesia mempunyai syahwat yang lebih rendah dibandingkan lelaki Arab? Bukankah ayat tentang menutup aurat itu berlaku untuk warga Arab dan warga dunia lainnya? Kemudian waktu itu saya memohon agar orang sekaliber rektor tidak mendeskriditkan bangsa apapun, terlebih tanpa ditopang oleh bukti dan dalam forum terhormat seperti itu.
Pengalaman ini terjadi dalam tahun 1980-an, ketika Golkar sedang jaya-jayanya dan sekali lagi waktu itu mereka enggan disebut sebagai partai politik. Masa-masa penderitaan orang-orang yang anti Golkar tentunya tidak pernah dialami oleh kaum muda seperti para simpatisan PKS atau pemilih pemula sekarang ini. Penampilan isteri JK dan Pak Wir dengan busana muslimah telah cukup membuat mereka bersimpati. Adalah juga sangat wajar jika para ulama di PKNU memberi dukungan penuh. Demikian halnya dengan para kiyai dari sejumlah pesantren.
Terus terang, penampilan kedua wanita, isteri capres dan cawapres dengan busana muslimah ini telah membuat saya berfikir, "Inilah pilihan saya". Namun, jika ingat kembali masa silam Golkar itu?
Seandainya kendaraan politik JK ini bukan Golkar.....
Jika Universiti Malaya, Malaysia memberikan gelar kehormatan doktor kepada JK -- terlepas dari muatan politik atau tidaknya-- tidaklah berlebihan. Putra Bugis ini memang telah malang-melintang di dunia bisnis sejak lama. Keluarga Haji Kalla di Makassar telah lama dikenal sebagai konglomerat berhasil. Ketika pertama kali mendengar -- puluhan tahun lalu -- nama Jussuf Kalla aktif berkecimpung di Golkar, saya bertanya-tanya, "Buat apa pengusaha seperti JK ini mau-maunya bergelut dalam politik?". Sebagai orang awam dalam bidang bisnis, kesimpulan yang paling mudah ditarik adalah bahwa politik diperlukan untuk melancarkan kegiatan bisnis, karena politik sangat dekat dengan kekuasaan yang diperlukan untuk menjalankan bisnis apapun.
JK memilih Golkar karena waktu itu, selama puluhan tahun bahkan sejak partai ini enggan disebut sebagai partai politik, padahal lebih jahat dari partai politik manapun, adalah partai yang kekuasaannya seakan-akan tidak akan pernah tergoyahkan. Bayangkan saja, dari mulai presiden hingga ketua RT/RW turut serta memaksa warga untuk memilih Golkar. Agar urusan di kelurahan dan desa lancar, aparat kelurahan dan desa membuat warganya terpaksa memilih Golkar. Belum lagi aparat militer di Koramil dan Kodim, karena petingginya (Jenderal Hartono) sempat menyatakan bahwa ABRI mendukung Golkar sepenuhnya.
Di desa-desa terpencil masih terlihat jejak ketidakberpihakan Golkar kepada rakyat. Desa yang warganya banyak memilih PPP -- waktu itu -- kondisinya pasti memprihatinkan. Jalan desa dibiarkan banyak berlubang dan selama puluhan tahun hanya dibuat dari batu koral, sedangkan desa di mana Golkar menang, jalan aspal plus fasilitas PLN dapat dinikmati warganya.
Secara pribadi, saya pernah merasakan cengkraman kuku kekuasaan Golkar ini. Sepulang dari kuliah di Madinah, saya diminta memberikan kultum menjelang salat tarawih di masjid agung, masjid tempat saya mengaji semasa SD. Tanpa ada tendensi apapun, saya menyampaikan pengalaman belajar di tanah suci selama empat tahun. Dalam ceramah tersebut wajar jika saya menceritakan bagaimana nikmatnya dapat menjalankan ibadah umrah setiap saat. Dapat mencium hajar aswad kapan pun, tanpa harus berdesak-desakan seperti musim haji. Nah, ketika saya bercerita tentang Masjid Haram, tentunya saya juga menceritakan tentang Ka'bah yang menjadi simbol pemersatu umat Islam di seluruh dunia. Ternyata, pembicaraan tentang Ka'bah ini membuat ketua DKM setempat yang dikenal sebagai dedengkot Golkar, membuat dirinya gerah dan risau. Sejak itu, saya dicekal. Menurut jamaah, kultum saya berisi propaganda PPP, padahal samas sekali saya tidak mengenal politik waktu itu. Selama empat tahun berada di kampus Universitas Islam di Madinah itu, para mahasiswa sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia politik manapun.
Pengalaman pahit serupa saya temukan pada masa kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Banten (ini yang benar, bukannya Jakarta). Setelah puluhan tahun meninggalkan pergururuan tinggi yang kini dikenal dengan UIN itu, salah seorang sahabat menceritakan apa yang pernah dibicarakan di kalangan para dosen semasa saya kuliah. Karena prestasi saya dianggap bagus (waktu wisuda, saya terpilih menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3.46), saya dinominasikan untuk dijadikan dosen tetap dan akan dikirim ke Canada, seperti beberapa dosen yang berprestasi lainnya. Bapak dekan waktu itu memang pernah memanggil saya agar mengajukan lamaran untuk menjadi dosen, tetapi saya menyatakan tidak bersedia. Ketika saya terpilih sebagai lulusan terbaik waktu itu, tentunya saya bersyukur, tetapi tanpa sedikitpun merasa bangga. Adalah sangat wajar jika saya mendapatkan nilai paling tinggi di antara seangkatan semua, karena saya kuliah selama dua tahun ini hanya mengulang pelajaran sewaktu mondok di Pondok Modern Gontor dan di Universitas Islam, Madinah itu. Hanya beberapa mata kuliah saja yang perlun dipelajari agak serius, karena memang belum pernah ditemukan selama ini.
Entah karena penolakan saya untuk mengajukan lamaran menajdi dosen itu atau karena hal lainnya, yang jelas menurut sahabat saya itu, saya tidak jadi dipilih untuk jadi dosen dan dipilih untuk dikirim ke Canada, karena saya dianggap sebagai seorang ekstrimis. Sebagai alumni Timur Tengah, pemikiran saya dianggap berseberangan dengan orang-orang IAIN waktu itu yang nyaris menjadi corong Golkar. Wajar jika mereka beranggapan seperti itu, karena menjelang sidang skripsi, saya dengan sangat terpaksa harus mengikuti penataran P4. Tanpa sertifikat P4 ini, mahasiswa tidak boleh mengikuti ujian.
Nah, dalam satu sesi yang menghadirkan rektor, emosi saya sempat terpancing. Rektor perguruan tinggi Islam ini dengan entengnya mengatakan, bahwa Islam Pancasilalah yang paling sesuai untuk warga Indonesia dan bukannya Islam yang berada di Saudi Arabia. Kemudian, sang rektor ini mengatakan bahwa mengapa para wanita di Saudi Arabia diharuskan menutup tubuhnya sedemikian rupa. Alasannya karena para lelaki Arab itu begitu melihat betis perempuan saja, matanya langsung ijo. Berbeda dengan lelaki Indonesia. Dalam kesempatan tanya-jawab, saya dengan nada emosi, mempertanyakan apakah memang ada bukti ilmiah kalau lelaki Indonesia mempunyai syahwat yang lebih rendah dibandingkan lelaki Arab? Bukankah ayat tentang menutup aurat itu berlaku untuk warga Arab dan warga dunia lainnya? Kemudian waktu itu saya memohon agar orang sekaliber rektor tidak mendeskriditkan bangsa apapun, terlebih tanpa ditopang oleh bukti dan dalam forum terhormat seperti itu.
Pengalaman ini terjadi dalam tahun 1980-an, ketika Golkar sedang jaya-jayanya dan sekali lagi waktu itu mereka enggan disebut sebagai partai politik. Masa-masa penderitaan orang-orang yang anti Golkar tentunya tidak pernah dialami oleh kaum muda seperti para simpatisan PKS atau pemilih pemula sekarang ini. Penampilan isteri JK dan Pak Wir dengan busana muslimah telah cukup membuat mereka bersimpati. Adalah juga sangat wajar jika para ulama di PKNU memberi dukungan penuh. Demikian halnya dengan para kiyai dari sejumlah pesantren.
Terus terang, penampilan kedua wanita, isteri capres dan cawapres dengan busana muslimah ini telah membuat saya berfikir, "Inilah pilihan saya". Namun, jika ingat kembali masa silam Golkar itu?
Seandainya kendaraan politik JK ini bukan Golkar.....
Saturday, May 16, 2009
HARGA DIRI SENILAI TERASI
Alasan yang dikemukakan oleh Sembiring mengapa dirinya mengancam menarik koalisi dengan PD adalah
Wednesday, May 13, 2009
KETIKA TIFATUL SEMBIRING BERNADA MIRING
Tifatul Sembiring? Sejak pertama mendengar nama ini, seribu tanda tanya sering mengusik fikiran saya. Bagi telinga saya nama seperti ini terasa agak aneh, karena seumur-umur baru tumben mendengarnya. Apapun artinya, yang jelas orang awak ini pasti bukan orang sembarangan. Kalau tidak, bagaimana pula dapat terpilih menjadi presiden PKS.
Saya mulai tertarik dan bersimpati kepada PKS sejak awal berdiri, ketika masih bernama PK. Bukan karena di antara pentolannya itu sahabat karib saya sewaktu mondok di Gontor dulu, tetapi karena sikap mereka yang boleh dikatakan "bersih" dari penyakit yang biasa diidap oleh para pemegang kekuasaan. Mulai dari Hidayat Nur Wahid yang sahaja hingga beberapa anggota parlemen yang berasal dari partai anak muda ini yang menolak atau mengembalikan "uang haram".
Ketertarikan saya terhadap PKS mulai menurun menjelang pemilu legislatif yang lalu. Iklan yang begitu gencar telah menjadikan saya beranggapan bahwa para petinggi partai ini begitu berambisi merebut kekuasaan.
Dan puncaknya, hari ini ketika Tifatul Sembiring menjawab pertanyaan pembawa berita TV One tentang apa yang diinginkan oleh PKS (atau Tifatul Sembiring sendiri) agar merasa nyaman dengan sikap SBY yang "tanpa bermusyawarah" telah menjatuhkan pilihannya kepada Boediono. Sembiring menginginkan dirinya (PKS) diajak berbicara, "ya, sambil minum tehlah", katanya sambil nyengir. "Apa susahnya kita diajak berbicara", begitu kurang lebih yang disampaikan Sembiring.
PKS menyatakan berkoalisi ternyata setali tiga wang dengan partai-partai lainnya. Ada udang di balik batu. Jika koalisi itu untuk kepentingan bangsa, mengapa pula PKS harus kebakaran jenggot ketika tersebar berita bahwa Boediono akan dijadikan calon pendamping SBY? Sikap yang sama juga ketika diisukan bahwa Golkar akan berkoalisi dengan PD.
Jika benar apa yang diberitakan media massa bahwa dari keempat partai yang berbasis Islam yang "mengancam" membatalkan koalisi dengan PD, hanya PKS yang masih belum bersikap lunak, ini menunjukkan bahwa PKS memang sudah dihinggapi penyakit gila kekuasaan. Wallahu a`lam bi al-sawab.
Saya mulai tertarik dan bersimpati kepada PKS sejak awal berdiri, ketika masih bernama PK. Bukan karena di antara pentolannya itu sahabat karib saya sewaktu mondok di Gontor dulu, tetapi karena sikap mereka yang boleh dikatakan "bersih" dari penyakit yang biasa diidap oleh para pemegang kekuasaan. Mulai dari Hidayat Nur Wahid yang sahaja hingga beberapa anggota parlemen yang berasal dari partai anak muda ini yang menolak atau mengembalikan "uang haram".
Ketertarikan saya terhadap PKS mulai menurun menjelang pemilu legislatif yang lalu. Iklan yang begitu gencar telah menjadikan saya beranggapan bahwa para petinggi partai ini begitu berambisi merebut kekuasaan.
Dan puncaknya, hari ini ketika Tifatul Sembiring menjawab pertanyaan pembawa berita TV One tentang apa yang diinginkan oleh PKS (atau Tifatul Sembiring sendiri) agar merasa nyaman dengan sikap SBY yang "tanpa bermusyawarah" telah menjatuhkan pilihannya kepada Boediono. Sembiring menginginkan dirinya (PKS) diajak berbicara, "ya, sambil minum tehlah", katanya sambil nyengir. "Apa susahnya kita diajak berbicara", begitu kurang lebih yang disampaikan Sembiring.
PKS menyatakan berkoalisi ternyata setali tiga wang dengan partai-partai lainnya. Ada udang di balik batu. Jika koalisi itu untuk kepentingan bangsa, mengapa pula PKS harus kebakaran jenggot ketika tersebar berita bahwa Boediono akan dijadikan calon pendamping SBY? Sikap yang sama juga ketika diisukan bahwa Golkar akan berkoalisi dengan PD.
Jika benar apa yang diberitakan media massa bahwa dari keempat partai yang berbasis Islam yang "mengancam" membatalkan koalisi dengan PD, hanya PKS yang masih belum bersikap lunak, ini menunjukkan bahwa PKS memang sudah dihinggapi penyakit gila kekuasaan. Wallahu a`lam bi al-sawab.
Sunday, May 3, 2009
RANI DAN KORUPSI

Adakah kaitannya antara Rani Yuliani, perempuan jebolan STIMIK Raharja, Cikokol, Tangerang dengan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia?
Perempuan yang bertugas sebagai pemungut bola di Lapangan Golf Modern Land, Tangerang, sebetulnya tidak ada istimewanya jika tidak dihubungkan dengan mendiang Nasrudin Zulkarnaen (NZ). Nama Rani kembali mencuat dan mengalahkan popularitas Manohara, manakalah Antasari Azhar (AA) yang ketua KPK telah ditetapkan sebagai saksi/ tersangka. Kejagung yang dinilai melangkahi kepolisian dalam mengeluarkan status AA tampak jelas begitu antusias. Maklum, sekian banyak kasus korupsi yang melibatkan oknum Kejagung berhasil diungkap oleh AA. Apa yang dilakukan Kejagung tampak sebagai pemuasan rasa dendam kepada ketua KPK itu.
Perkara NZ menikahi Rani, meskipun sebagai isteri ketiga sebetulnya bukan masalah. Kalaupun ada masalahnya adalah konon nikahnya secara sirri alias tidak tercatat di KUA. NZ yang sering bermain golf dan Rani sebagai pemungut bola, tentunya sering bertemu dan berinteraksi. Daripada terlibat dalam perbuatan haram, menjadikan Rani sebagai isteri setidaknya menjadikan hubungan mereka sah di mata agama.
Agak sulit diterima akal sehat jika Rani -- terlebih sudah menjadi isteri orang -- sedemikian meluluhkan hati AA. Lain soalnya jika posisi Rani itu digantikan dengan Manohara. Maka, dugaan bahwa Rani adalah sebagai umpan, seperti yang dikatakan oleh pengamat intelijen, Dr. AC Manulang. AA telah masuk perangkap. Citra KPK mulai pudar. Skenario besar itu pun tampak berhasil. Tidak sedikit orang yang mengecam AA, mengecam DPR yang merekrut ketua KPK itu.
Korupsi di negeri ini telah mendarah-mendaging, telah berakar ke pelbagai penjuru. Kehadiran KPK tentunya membuat para koruptor merasa gerah. Jika benar terbukti bahwa untuk menghabisi nyawa NZ itu telah disediakan dana hingga milyaran rupiah, kita bertanya "uang halalkah itu?".
Subscribe to:
Posts (Atom)