Tuesday, April 28, 2009

MOHAMMAD SOBERI SHAFII, APA YANG KAU CARI?

Mohammad Soberi Shafii,
lelaki yang mengaku sahabat Pangeran Fakhry
begitu teganya dikau menuduh Ibu Daisy
mana mungkin seorang ibu menjual sang puteri
hanya sekadar mencari kepuasan materi

Mohammad Soberi Shaffi
Tengku Muhammad Fakhry
jika kalian memang lelaki sejati
berbicaralah dari hati nurani
jangan biarkan rakyat negeri ini
terus menerus mencaci maki

Jakarta
- Sahabat Pangeran Kerajaan Kelantan Tengku Muhammad Fakhry, Moh Soberi Shafii dituding telah melakukan fitnah terhadap Ibu Manohara, Daisy Fajarina. Daisy berasal dari keluarga terhormat yang tidak akan melakukan pemerasan dengan meminta uang kepada Fakhry.

"Fitnah (tudingan) itu, titik," kata pengacara Daisy, OC Kaligis kepada detikcom, Rabu (29/04/2009)

Soberi, seperti dikutip Malaysiakini, Selasa (28/4/2009) kemarin mengatakan, kasus Manohara berawal dari masalah uang. Daisy menuntut Fakhry untuk melunasi utangnya sebesar RM 600 ribu. Sementara Fakhry baru memberikan uang RM 300.000.

Daisy Fajarina juga dituduh mengawinkan anaknya karena harta. Hal itu terjadi pada saat Mano, kabur ke Indonesia akhir tahun lalu. Daisy mengatakan, tuduhan oleh keluarga kerajaan mengenai dirinya gila harta juga dialamatkan oleh pihak-pihak Indonesia.

"Bagaimana dituduh menjual anak? Sekarang gampangnya bawa pulang saja anaknya untuk ketemu ibunya. Kesannya kere banget kalau dijual, ibunya orang terhormat," imbuh OC Kaligis.

Kabar pihak kerajaan yang akan mengutus seseorang untuk menemui Daisy juga hingga kini belum ada kejelasan. "Belum ada kabar lagi," tutup OC Kaligis. Ngobrolin model cantik Manohara Odelia Pinot? Gabung di sini. (mpr/iy)

Thursday, April 23, 2009

KEGILAAN PEMILU, GILA PEMILU DAN PEMILU GILA

1
Oleh: Ostaf Al Mustafa *

* (Penulis lepas di situs Dinas Kesehatan Bontang, Kaltim pada
http://www.dkkbontang.com/ sekaligus menangani masalah IT-nya. Beliau sarjana komunikasi dari Universitas Hasanudin, menetap di Bontang, Kaltim). Tulisan ini dimuat seizin penulisnya.

Politik merupakan usaha paling gila dalam berkuasa. Kegilaan itu terdapat di realitas modern, epos Mahabharata dan ‘mitologi Yunani’, bahkan di update dan upgrade pada Pemilu 2009. Dalam realitas modern, kegilaan politik dibahas dalam Journal of The Royal Society Magazine (volume 96, 23 Desember 2003). Allan Beveridge, MPhil FRCPsych, menulis berbagai jenis kegilaan dalam “The Madness Of Politics”. Ia memulainya dengan pertanyaan “Apakah Perdana Menteri itu gila?”. Pertanyaan itu menguat di Inggris menjelang masa akhir kekuasaan Margaret Thatcher (1990). Saat itu sang ‘Wanita Besi’ mengalami ‘crazed and grandiose’. Seperti apa itu ‘crazed and grandiose’ dalam konteks realitas politik ke Indonesiaan? ‘Crazed and grandiose’ merupakan kondisi ketika seseorang terlihat makin gila dalam kekuasan dan memiliki ambisi kembali untuk berkuasa. Kegilaan ala Thatcher membiak sangat parah di Indonesia. Para mantan presiden yang gagal menyejahterakan rakyat Indonesia, kembali muncul dalam demagogi baru. Mereka memajang janji baru untuk menutupi janji lama yang tak ditepati. Politikus busuk yang pernah menikmati uang korupsi semakin bertambah banyak dalam deret ukur jejeran baliho. Pesta politik Indonesia tak akan ramai, tanpa kehadiran para politikus busuk itu. Dalam politik, bau busuk terasa wangi di hidung para para politikus yang berada dalam kondisi ‘crazed and grandiose’.

Tak ada rasa malu dengan apa mereka perbuat di masa lalu. Ketiadaan rasa malu menjadi ciri khas para politikus Indonesia yang menjadi Thatcherian. Mereka mengalami ‘gila pemilu dalam pemilu gila ini’. Indonesia merupakan area paling gila di seluruh dunia. Setiap hari lebih dari setahun, terjadi pemilu di Indonesia. Banyak terjadi kegilaan dalam masa-masa pemilu itu, ada yang benar-benar gila atau ‘gila bener’! Beda dua kegilaan itu, cuma setipis sayatan silet. Kegilaan ala British ini, makin membesar ketika Dr. Paul Broks, seorang neuropsychologist menduga Blair seorang yang ‘plausible psycopath’. Dr Sidney Crown, seorang psychotherapist yakin Blair mengalami ‘devious personality’. ‘Plausible psycopath’ merupakan orang yang kelihatannya melakukan hal yang seolah-olah masuk akal, tapi justru disitulah bagian kegilaannya sebagai psikopat politik. Seorang yang ‘plausible psycopath’, sering memberikan pernyataan-pernyataan yang bagus, yang sesungguhnya tak pernah ia lakukan saat masih berkuasa atau menjabat wakil rakyat. Pernyataan itu tentu saja diimbuhi oleh Iklan berharga mahal di media cetak dan media elektronik. Politikus yang menderita ‘devious personality’, masa lalunya bertangan kotor dalam semua tindak tanduk politiknya. Memasuki masa pemilu, ia justru terlihat sangat alim atau suci. Ia mencapai tujuan politiknya dengan berbagai kelicikan dan ketidak-jujuran. Politikus yang Blairian, banyak terdapat di Indonesia.
2
Kegilaan terangkum pada kosa kata Yunani yakni “tragidio” yang berarti ‘nyanyian sendu’. Tragedi juga perpaduan antara ‘tragos’ (kambing) dan ‘aeidein’ (nyanyian). Tragidio yang berarti ‘nyanyian kambing’, merupakan lagu favorit dalam pemilu 2009. Bila anggota DPR/DPRD, DPD, presiden dan wakil presiden yang terpilih tidak menepati janjinya, maka itu masih wajar. Mana ada suara yang benar dalam nyanyian kambing? Percaya pada nyanyian kambing, termasuk kegilaan baru di kalangan para pemilih. Kambing-kambing yang tak menepati janji, sudah sulit dikambing-hitamkan, karena bulu mereka sudah berwarna-warni. Kegilaan pemilu penuh warna, kambing-kambing tak ada lagi yang berbulu hitam!

Tragedi dalam mitologi Yunani menurut Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844 –1900) berupa Dionysian (kegairahan) dan Apollonian (kelemahan). Dionysian dan Apollonian, merupakan sisi lain dari kekuasaan dan kegilaan. Dalam mitologi Yunani, Apollo dan Dionysus merupakan anak dari Dewa Zeus. Apollo merupakan Dewa Matahari. Darinya dinisbatkan keriangan, musik, dan puisi. Dionysus merupakan Dewa Anggur. Darinyalah terdapat keliaran, kegembiraan di luar kendali dan kemabukan. Sosok Apollo dan Dionysus merupakan kontradiksi antara gelap versus terang dan segala yang berada di oposisi biner.

Kontradiksi itu kini melebur dalam pemilu. Politik mampu mempertemukan Dionysian dan Apollonian dalam satu meja, satu partai dan kegilaan yang sama. Tragedi Yunani adalah kegilaan kekuasaan, bukan tentang luka yang menganga di medan perang, maupun tentang airmata yang mengalir dalam sungai darah. Tragedi ini antara lain tercatat dalam illiad (narasi epos) karya Homer tentang ‘Perang Troya’. Perang itu menghadirkan kegilaan Agamemnon (raja Mycenae/Yunani). Ia berkata “Aku tak peduli dengan kebenaran yang kau emban dalam perang, Aku tak punya urusan dengan Helen yang akan direbut kembali! Aku menginginkan hanya satu yakni rebut Troja dan aku yang duduk di singgasana”

Epos Mahabharata menukilkan kegilaan wangsa Bharata, ketika Kurawa hendak menguasai Astina. Pandawa ikut dalam kegilaan itu dengan mempertaruhkan singgasana dalam perjudian dadu. Lebih gila lagi, seorang perempuan cantik yang tak berurusan dengan kegilaan para lelaki itu, menjadi bahan taruhan. Drupadi, sang perempuan suci terhina, karena ulah Pandawa dan Kurawa. Hadirnya perempuan di sela-sela kegilaan para lelaki, sama dengan pemicu perang Troya. Saat itu demi alasan cinta, Paris (pangeran Troya) membawa Helena ke Troya. Helena merupakan istri Menelaus (raja Sparta). Perang yang bermula dari rebutan perempuan, membiak menjadi sebuah kegilaan untuk menguasai Troya.

Helena hanya motif sekunder dari penyerangan ke Troya, sedangkan motif primer adalah kegilaan berkuasa. Drupadi dan Helena, obyek kegilaan para lelaki. Hal itu berbeda dengan Thatcher yang menjadi subyek gila dalam kekuasaan politik di Inggris. Di Indonesia, kegilaan sudah tak lagi berupa sebuah pertanyaan dan tak perlu dipertanyakan. Kegilaan dalam kekuasaan sudah diakhiri dengan tanda seru. Jika Beveridge, hidup di Indonesia, ia tak usah lagi bertanya, “Apakah politikus itu gila?” Ia akan berseru, ”Politikus Indonesia sudah gila ya!”

Wednesday, April 22, 2009

MENGAPA KEKUASAAN DIPEREBUTKAN

"Kita harus punya kekuasaan di negara ini agar syariat Islam dapat ditegakkan", ujar seorang penggiat partai politik berbasis Islam. Jika niat setiap pemburu kekuasaan seperti saudara kita ini, alangkah mulianya para pemburu kekuasaan itu. Tetapi orang seperti itu mungkin hanya satu dari sekian puluh juta orang. Buktinya, puluhan calon pemegang kekuasaan (baca: para caleg) telah kehilangan akal sehatnya, telah kehilangan rasa malunya, dan menjadi beban keluarga dan negara tentunya. Ratusan hingga milyaran rupiah mereka keluarkan demi mencapai sebuah kekuasaan.

Beberapa hari ini panggung politik negeri ini tengah diramaikan oleh elit politisi yang juga sedang memburu kekuasaan. Para pensiunan jenderal datang beramai-ramai memenuhi undangan rekannya dan berkumpul di rumah seorang yang diyakini akan menghadiahi mereka kekuasaan bila impiannya tercapai.

Berita yang dilansir www.detik.com hari ini setidaknya memberi jawaban kepada kita, mengapa kekuasaan itu diperbutkan:

Kamis, 23/04/2009 08:29 WIB
Kasus Upah Pungut Pajak
Mendagri Gunakan Rp 603 Juta Untuk Kepentingan Pribadi
Rachmadin Ismail - detikNews
Jakarta - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan sejumlah dugaan penyelewengan dana upah pungut pajak dalam Dana Penunjang Pembinaan (DPP) yang mengalir ke Menteri Dalam Negeri. Tidak tanggung-tanggung, duit yang digunakan untuk pribadi pada tahun 2008 mencapai Rp 603 juta.

Berdasarkan laporan hasil audit berkode HP/XVIII/03/ 2009 yang dilansir dalam situs BPK, Kamis (23/4/2009), sedikitnya ada sejumlah pengeluaran yang digunakan untuk kepentingan pribadi Mendagri. Salah satunya adalah untuk biaya peralatan pesta pernikahan putri Mendagri Mardiyanto yang mencapai Rp 60 juta pada tahun 2008.

Selain itu, ada juga sejumlah dana yang digunakan untuk pengadaan pakaian, biaya tol, pengadaan telepon seluler dan biaya cetak foto. Semuanya jika dijumlah mencapai ratusan juta rupiah.

"Pengeluaran tersebut tidak memenuhi syarat sebagai bukti pertanggungjawaban sehingga kebenaran materiil atas pengeluaran tersebut tidak dapat diyakini," tulis penanggung jawab laporan Memet Wirahadikusumah.

Tidak hanya itu, pada tahun 2007, duit upah pungut pajak yang digunakan untuk kepentingan Mendagri dan istri mencapai Rp 1,2 miliar. Duit tersebut digunakan mulai dari pembelian gorden di rumah pribadi menteri hingga biaya pengobatan ke Singapura.

Sedangkan pada tahun 2005, duit yang digunakan mencapai Rp 201 juta. Lalu pada tahun 2003, terpakai Rp 21 juta untuk biaya perlengkapan menteri.

"Padahal dana tersebut seharusnya digunakan hanya untuk kepentingan pemungutan pajak," tulis Memet.

Mardiyanto menjabat sebagai Mendagri pada pertengahan 2007. Dia menggantikan M Ma'ruf (menjabat sejak 2004) yang sakit.

(mad/nrl

SANG PANGERAN DARI KELANTAN (3)


Berita yang dilansir www.detik.com kali ini sungguh membuat hati saya cukup lega -- untuk sementara. Semoga apa yang disampaikan oleh kerabat kerajaan Kelantan itu benar adanya. Kita berdoa, semoga berita ini disusul dengan diperbolehkannya Ibunda Mano, Daisy Fajria, untuk bertemu dengan puterinya itu.


Pangeran Fakhry,
Saya sebagai warga Indonesia akan merasa bahagia juga jika benar-benar Anda berdua bahagia. Apa yang diberitakan di negara saya itu -- di antaranya Anda telah menyiksa, dengan melukai dada isteri Anda dengan silet -- itu tidak benar.

Rabu, 22/04/2009 18:14 WIB Model Cantik Dianiaya Pangeran Kerabat Kerajaan Kelantan: Manohara Bahagia Yulia Dian - detikNews

Jakarta - Kerabat Kerajaan Kelantan, Malaysia membantah kabar model cantik Manohara Odelia Pinot disiksa suaminya, Pangeran Kerajaan Kelantan Tengku M Fakhry. Mano bahkan disebut tengah berbahagia. "Mano lagi bahagia. Malah udah gemuk lagi," kata seorang kerabat Kerajaan Kelantan yang enggan disebutkan namanya, melalui surat elektroniknya kepada detikcom, Rabu (22/4/2009). Kerabat Kerajaan Kelantan itu menjelaskan Tengku Fakhry sangat mencintai Mano dan tidak bakalan melakukan kekerasan dalam rumah tangga seperti dinyatakan Ibunda Mano, Daisy Fajria. "Tengku Fakhry itu bukan tipe gitu," sebut dia. Di Kelantan, pasangan Tengku Fakhry dan Mano itu dikenal baik dan murah hati. "Very humble. Mereka (Mano dan Tengku Fakhry) memang fall in love, dari hati suci," jelasnya. (ndr/iy)

Tuesday, April 21, 2009

JANGAN BEBANI KAMI LAGI

Ketika menghadapi pemilu legislatif yang baru lalu, terus terang saja saya sedikit apatis. Terlalu sulit untuk menentukan siapa yang patut dijadikan wakil di parlemen nanti, apa pun partainya. Jauh-jauh sebelumnya memang, ulah beberapa oknum anggota DPR telah membuat saya muak melihat dan mendengar kata-kata DPR. Dari sekandar suap hingga sekandal perempuan. Yang lebih menyakitkan adalah mayoritas dari mereka itu adalah saudara-saudaraku seagama, bahkan beberapa di antara mereka berasal dari partai yang akrab dengan umat Islam.

Namun dalam menghadapi pemilu presiden mendatang ini, hati saya jadi berubah. Memilih presiden dan wakilnya berbeda dengan memilih caleg yang tidak sedikit kampanyenya saja sudah tidak bermutu itu.

Memilih presiden dan wakilnya -- jika memang ada yang layak untuk dipilih -- akan menentukan nasib hidup rakyat negeri ini kedepan. Oleh karena itu, gertakan dari Wiranto dkk yang tergabung dalam Kelompok Teuku Umar itu yang akan memboikot pemilu presiden, patut ditanggapi serius. Jika benar-benar pemilu presiden gagal atau diundur, saya tidak bisa membayangkan berapa trilyun rupiah akan terbuang percuma. Ujung-ujungnya, rakyat seperti kita ini juga yang akan menanggungnya kelak.

Saya bukan penggiat partai atau LSM apapun. Saya tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan para tokoh nasional semacam Wiranto, Megawati dan Prabowo. Setidaknya tulisan ini merupakan upaya memelihara perdamaian dan kedamaian di negeri ini. Saya selalu membayar pajak, karena itu saya punya hak untuk menjaga negeri ini dari kekacauan.

Monday, April 20, 2009

SANG PANGERAN DARI KELANTAN (2)

Pernikahan Anda dengan Manohara Odelia Pinot (Mano) sepanjang pengetahuan saya sebagai orang awam tampaknya tidak sepopuler pernikahan Bunga Citra Lestari (BCL) dengan Ashraf Sinclair. Antara kedua pernikahan ini ada kesamaan, yaitu sang isteri berasal dari Indonesia dan sama-sama mempunyai kelebihan. Hal ini sangatlah wajar dan manusiawi. Mengapa pula memilih perempuan dari negara lain kalau bukan adanya kelebihan ini. Di mata saya pribadi, Mano merupakan perempuan yang cukup jelita. Maka, Fakhry, Anda sebetulnya sangat berjaya mempersunting perempuan sejelita Mano ini............... meskipun pernikahan kalian berdua dimulai dengan sesuatu yang kurang sedap didengar, seperti yang disebutkan dalam situs ini: http://www.kapanlagi.com/h/menguak-hilangnya-manohara-odelia-pinot.html

Pernikahan Manohara dan Tengku Fakhry sebenarnya dilatarbelakangi hal yang 'tidak menyenangkan'. Putra raja Kelantan tersebut telah merenggut kegadisan Manohara terlebih dahulu. Ia pun berjanji akan menikahi Manohara sesuai permintaan keluarga Daisy yang masih berdarah bangsawan Bugis. Tapi janji itu tidak pernah ditepati.

Selanjutnya, www.kapanlagi.com memberitakan sebagai berikut:

Selama menjalani kehidupan rumah tangga, Manohara tidak diperlakukan dengan baik. Menurut Daisy, putrinya kerap dianggap sebagai properti, bukan istri.

Kerap kali Tengku Fakhry di hadapan umum memperlakukan Manohara dengan kasar. Ia kerap mengatakan istri saya seperti mobil mewah, tapi karena tidak bisa dikendarai, ganti saja dengan mobil lain.

"Sampai pada suatu saat Manohara melarikan diri dari Singapura kembali ke Jakarta ke rumah kontrakan kami," ungkap Daisy.

"Di Jakarta, kami selalu kedatangan tamu dari berbagai pihak untuk mencoba membawa anak saya kembali ke Kuala Lumpur, saya katakan semua itu terserah Manohara. Dia katakan dia akan menunggu di Indonesia sampai acara perkawinannya di hadapan keluarga di Indonesia terlaksana.

Manohara juga mengatakan, bahwa mamanya juga ingin acara perkawinan saya ada acara siraman.

Beberapa kali pihak Tengku Fakhry terus melakukan berbagai cara untuk mengambil Manohara, salah satunya dengan mengajak ibadah umroh dan niatan baik itu diterima baik pihak Manohara. Pada tanggal 25 Februari 2009 mereka berangkat menuju Jedah dengan pesawat MAS.

"Alhamdulillah kami melakukan ibadah dengan baik, hubungan kami dengan Tengku pun baik," ujar Daisy.

"Tanggal 09 Maret 2009, kami bersiap-siap kembali ke tanah air. Sewaktu menuju ke airport, Manohara berangkat satu kendaraan dengan Tengku M.fakhry. Saya dan putri saya Dewi dan pak Mohd.Kamel dengan mobil lain. Setiba di airport saya terperanjat karena kita tidak menuju ke terminal commercial tapi ke terminal Aviation untuk private jet. Betapa terperanjatnya saya karena pintu pesawat tiba-tiba ditutup, karpetnya digulung, orang-orang di bawah memberi aba-aba pada pilot bahwa ada tiga penumpang yang ingin naik, tapi dia tidak peduli. Saya lari ke sisi kanan pesawat mencari anak saya, saya sempat melihat dia ditekan oleh orang. Saya sangat takut sekali....saya berteriak... anak saya....tolong anak saya....Dewi pun berteriak teriak ketakutan sekali, tapi pilot tetap tidak peduli dan menjalankan pesawat sampai wing-nya hampir menabrak kami dan mobil yang diparkir di dekat pesawat."

"Manohara terbang dengan pesawat Chalenger 300 milik Berjaya Air dengan nomor reg 9MTAN dan diterbangkan pilot Kaptain Zakaria Salleh, berkebangsaan Malaysia. Pesawat meninggalkan kami begitu saja di runway, kami ketakutan, kami betul-betul terluka sekali. Saya tidak menyangka setelah umroh mereka sanggup melakukan hal yang sangat tidak manusiawi. Rasanya saya ingin mati saja, tapi saya tahu saya harus kuat untuk anak saya. Saya tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada ananda tercinta," curhat Daisy dalam suratnya kepada KapanLagi.com.

"Saat ini Manohara menjadi tawanan mereka. Manohara menjadi korban. Tolong bantu kami. Saya mohon tolonglah Manohara. Kami mengkhawatirkan mental Manohara. Tolonglah dia," harapnya terasa mengiba.

Kini hanya derita yang dirasakan Daisy sambil berharap banyak dukungan dari berbagai kalangan bisa membantu putrinya Manohara. (kpl/wwn/rit)

SANG PANGERAN DARI KELANTAN (1)

Tengku Muhammad Fakhry,
Apa yang saya lakukan ini tidak lebih dari "copy" and "paste" akhbar yang beredar di negara saya, Indonesia, yang berjiran-tetangga dengan negara Anda.

Saya lakukan ini karena ketika salah seorang pembaca blog saya ini, seorang ibu rumah tangga dari negara Anda mengatakan bahwa akhbar seperti ini tidak pernah terdengar di negaranya. Ibu itu merasa heran, mengapa di negara saya ramai dibicarakan orang.

Terus terang, begitu saya publikasikan kasus Anda di blog saya ini, puluhan orang langsung membacanya. Ini terlihat dari Yahoo Messenger yang sengaja saya cantumkan dalam blog.
Para pembaca itu tentunya sama-sama prihatin, mengapa seorang pangeran seperti Anda sampai hati -- kalau akhbar itu memang benar -- menganiaya isteri Anda sendiri yang menurut penilaian kami adalah seorang perempuan yang sangat jelita.

Tengku Muhammad Fakhry, berbicaralah.

Selasa, 21/04/2009 11:21 WIB

Model Cantik Dianiaya Pangeran
Putra Mahkota Kelantan Harus Tanggung Jawab
Indra Subagja - detikNews

Jakarta - Departemen Luar Negeri (Deplu) meminta putra mahkota Kerajaan Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry bertanggung jawab atas kasus penganiayaan terhadap istrinya, Manohara Odelia Pinot, model cantik asal Indonesia.

"Kita mengharapkan putra mahkota Kelantan tanggung jawab dan menyelesaikan permasalahan dengan arif," kata Direktur Perlindungan WNI Teguh Wardoyo saat dihubungi melalui telepon, Selasa (21/4/2009).

Ibunda Manohara, Daisy Fajaria, Senin (20/4/2009) kemarin menggelar jumpa pers menjelaskan sang model cantik mengalami KDRT oleh suaminya. Dada perempuan berusia 17 tahun itu dikabarkan disilet-silet sang suami dan menangis minta dipulangkan ke Indonesia.

Menurut Teguh, karena Manohara dan putra mahkota Kelantan sudah menikah, sebaiknya bila persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan.

"Kalau kaya makmurkan istri dan keluarganya. Kalau dia perkasa lindungi istrinya dengan adab. Jangan ada ancaman atau berbagai bentuk pemaksaan lainnya," jelas Teguh.

Dia menambhakan, dalam perkawinan itu, ada kehormatan pula bagi seorang wanita. "Perkawinan diatur hukum dan agama," tutupnya.