Monday, April 20, 2009

FAKHRY, BENARKAH AWAK MACAM TU?

Masih ingat nama Fakhry? Ya, tokoh sentral dalam novel Ayat-ayat Cinta-nya Kang Abik itu. Lelaki yang menjadi rebutan para gadis dalam cerita khayalan itu konon menjadi lelaki idaman para gadis di dunia nyata, bahkan bukan hanya di negara tempat Kang Abik itu berdomisili. Banyak dara Melayu baik di Singapura maupun Malaysia yang memimpikan suami sebaik Fakhry. Lebih dari itu, menurut sebuah sumber yang terpercaya, ada seorang ibu membawa anak gadisnya datang langsung ke rumah Kang Abik di daerah Salatiga, Semarang, meminta agar Kang Abik menikahinya. Sang ibu begitu terpengaruhnya oleh film Ayat-ayat Cinta. Gileeeee.

Namun dalam dunia nyata ternyata tidak semua lelaki yang be
rnama Fakhry itu sebaik Fakhry dalam Ayat-ayat Cinta. Sebut saja Tengku Muhammad Fakhry, sang pangeran dari Kerajaan Kelantan. Sepanjang pengetahuan saya, Kelantan adalah negeri bagian di Malaysia yang terkenal dengan masyarakat yang sangat agamis. Syariat Islam konon diterapkan di negeri ini. Ini tak heran karena partai oposisi pemerintah (PAS) dari tahun ke tahun berjaya menguasai negeri ini.

Nah, jika tulisan ini saya buat, alasannya adalah: akal sehat saya sulit menerima kenyataan jika seorang Tengku Muhammad Fakhry, pangeran Kerajaan Kelantan ini melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) seperti yang diberikan oleh www.detik.com di bawah ini.

Bagi rekan-rekan warga Malaysia yang sempat membaca tulisan ini, mohon kiranya memberi penjelasan atau klarifikasi, benar tidaknya akhbar ini?

Senin, 20/04/2009 21:38 WIB

Pangeran Malaysia Dituding Lakukan KDRT Model Cantik Indonesia
Irwan Nugroho - detikNews


Jakarta - Cinderella hidup bahagia setelah disunting pangeran dari kerajaan. Namun dongeng itu tidak berlaku untuk Manohara Odelia Pinot, seorang model cantik asal Indonesia.

Setelah menikah dengan putra Raja Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry, Mano malah menderita. Konon, model kelahiran 28 Februari 1992 itu terus mendapat perlakuan kasar dari suaminya.

"Di dadanya ada bekas luka silet, selama ini keluarga di Jakarta tidak bisa berhubungan langsung dengan Mano," kata kakak Mano, Dewi, dalam jumpa pers di restoran Ampera, Jl KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2009).

Dewi mengatakan, akhirnya keluarga mengetahui tentang kehidupan Mano yang menderita dari keluarga kerajaan. "Saya tahunya dari mereka-mereka yang baik bahwa Mano lagi sedih dan menangis terus," kata Dewi.

Dewi mengatakan, keluarga terakhir kali mengontak Mano melalui telepon pada 20 Maret 2009. Saat itu, kata Dewi, Mano menangis dan mengatakan ingin kembali ke Indonesia.

"Waktu itu teleponnya pun hanya beberapa detik, setelah itu diputus dan kita nggak tahu lagi," kata Dewi.

Sementara itu ibunda Mano, Daisy Fajarina menceritakan, perlakuan kasar Fakhry memang telah terlihat sejak pasangan yang menikah pada 26 Agustus 2008 itu berbulan madu di Thailand. Saat itu, Mano dibentak oleh Fakhry gara-gara menolak melayani sebagai seorang istri.

"Waktu itu Fakhry ingin berhubungan badan dengan Mano tapi ditolak karena alasan sedang halangan. Tapi ternyata Fakhry malah membentak dan dengan kasar bilang kalau tidak bisa melayani tidur saja sama kakakmu," kata Daisy.

Kebetulan, kata Daisy, saat bulan madu itu, Dewi, sang kakak juga ikut serta. "Dia langsung ke kamar saya dan menangis karena syok," kata Dewi menimpali. (ken/gah)

Friday, April 17, 2009

SEMBILAN MAHASISWA YANG TEWAS ITU

Kecelakaan lalu lintas di Batu, Malang, Jawa Timur yang terjadi jam 01.30 dini hari, Rabu 5 April 2009 itu sungguh sangat mengenaskan. Kesembilan orang yang tewas itu bukan sembarang orang. Mereka semua adalah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi, bahkan salah seorang dari mereka akan diwisuda.

Yang membuat kita trenyuh adalah, beberapa media massa menyebutkan bahwa "...salah seorang korban perempuan sudah tak memiliki pakaian lengkap alias bugil saat dikeluarkan dari mobil. Dan satu korban lelaki hanya menggunakan celana pendek berwarna putih dan telanjang dada...." (http://www.bangkapos.com/news/read/7226/nasional/Misteri+Kematian+9+Mahasiswa+di+Malang.html).

Selain itu, warga yang membantu proses evakuasi para korban mencium aroma minuman beralkohol yang cukup menyengat dari dalam kendaraan yang sudah ringsek itu. Kesembilan korban itu memang baru merayakan ulang tahun salah seorang rekan mereka di sebuah villa. Sampai tulisan ini saya buat, kepolisian belum mengeluarkan pernyataan penyebab kecelakaan tersebut, apakah betul karena ban belakang yang pecah atau karena pengemudi dalam keadaan mabuk. Jika benar bahwa dia sedang dalam keadaan mabuk, dan tentunya yang menenggak minuman beralkohol alias arak itu bukan dia sendiri, tetapi rekan-rekannya juga, duka yang menimpa mereka tidak hanya menyakitkan keluarga yang ditinggalkan saja. Kita sendiri akan merasakan yang sama. Perguruan tinggi tempat mereka menuntut ilmu, beberapa di antaranya adalah perguruan tinggi berlabelkan Islam, yaitu: Universitas Islam Negeri Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang. Bahkan jika kita amati nama-nama mereka, tampaknya mayoritas dari mereka adalah beragama Islam.

Bagi kita, ini adalah suatu pelajaran yang sangat berharga. Ajal tidak mengenal usia dan waktu. Bagi saya sendiri ada satu pertanyaan yang cukup mengganggu, "bagi mereka yang beragama Islam itu, apakah ketika menghadiri pesta itu sempat salat magrib dan isya dulu apa tidak?".

Doa kita, semoga amal ibadah yang telah mereka lakukan selama hidupnya diterima oleh Allah SWT dan dosa-dosanya diampuni-Nya. Amin.

Wednesday, April 15, 2009

SAKIINAH DAN MUSLIMAH

Siapapun tau bahwa kata "sakiinah" dan "muslimah" adalah dua perkataan berasal dari bahasa Arab. Kedua nama ini menjadi judul sinetron yang ditayangkan oleh televisi swasta di republik Indonesia pada sekarang ini. Tak satupun dari kedua sinetron itu pernah saya tonton. Sekilas dari judulnya seakan-akan kedua sinetron itu berkisah tentang kehidupan keluarga Islami. Terlebih dari busana yang dikenakan oleh para pemain sinetron "Muslimah". Jilbab bertaburan di sinetron ini, bahkan bahasa Arab dialek Saudi sering mendominasi dialog para pemainnya.

Sekali-kali saya sempatkan untuk "melihat" apa yang disampaikan oleh kedua sinetron ini, tapi saya tidak pernah berhasil untuk melihat lebih dari dua menit, karena rasa mual saya sudah terlanjur muncul demi melihat dan mendengar dialognya.

Nama yang berbau Arab, bahkan bahasa yang biasa digunakan oleh orang-orang di Saudi yang digunakan dalam kedua sinetron ini membuat saya semakin yakin dengan kesimpulan saya selama ini bahwa, "sesuatu yang islami itu tidak mutlak harus menggunakan atribut-atribut serba berbau Arab". Jilbab bukanlah budaya Arab, tetapi merupakan ajaran Islam. Namun, apa yang ditampilkan dalam "Muslimah", para pemain yang mengenakan jilbab berperilaku sangat tidak islami.

Saya jadi teringat hasil seminar sastra Islam yang pernah diadakan di kampus Universitas Islam Madinah, puluhan tahun yang lalu. Dari seminar itu disimpulkan bahwa apa yang disebut sastra Islam tidak harus berisi kata-kata yang akrab dengan ajaran Islam, seperti kata Allah, Rasulullah, al-Quran, dsb. Sebuah karya sastra yang sama sekali tidak mencantumkan nama-nama seperti itu boleh jadi merupakan karya sastra islami jika isinya memang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Sinetron "Sakiinah" dan "Muslimah" lebih cenderung sebagai upaya untuk mengaburkan bahkan menyelewengkan ajaran Islam, kalau pun bukan untuk mencemoohkan agama pamungkas ini.

Tuesday, April 14, 2009

KERIPIK PISANG MADE IN CHINA

Menurut sebuah surat kabar nasional, di negeri kita tercinta ini ada sejumlah pasar modern yang menjual keripik pisang buatan luar negeri: made in China dan made in Malaysia. Saya tidak tahu, apakah pasar modern itu juga menjual keripik pisang dari Lampung yang sangat terkenal itu apa tidak?

Melihat fenomena seperti itu pemerintah "baru" akan memberlakukan peraturan agar pasar modern menyerap lebih banyak lagi produk industri kecil dan menengah. "Jika sebelumnya mereka hanya wajib menyerap 10 persen, sekarang kuota itu akan kami naikkan hingga menjadi 25 persen," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Depperin Fauzi Aziz.

Salah satu alasan mengapa produk luar negeri itu dihadirkan di pasar modern, "...kita juga perlu memperhatikan keinginan konsumen. Usaha ini harus berjalan sesuai dengan keinginan konsumen", seperti yang disampaikan oleh seorang direktur perusahaan pasar modern.

Beberapa negara di dunia ini tampaknya negara kitalah yang termasuk negara yang pemerintahnya kurang memperdulikan bangsanya. Kapan para petani dan nelayan di negeri ini akan hidup layak seperti kebanyakan warga lainnya jika hasil jerih payah mereka tidak mendapat perlindungan dan penghargaan dari para penguasanya?

Monday, April 13, 2009

Mulai Bermunculan Caleg Stres di Kabupaten Garut

Berikut adalah berita dari Media Indonesia Online:

GARUT--MI:
Kini mulai bermunculan beberapa calon legislatif (Caleg) di Kabupaten Garut, yang diindikasikan kuat mengalami stres berat, meski tahapan pelaksanaan penghitungan suara masih terus berjalan atau belum seluruhnya tuntas.

Bahkan sempat terjadi dua Caleg dari dua Parpol berbeda, marah besar sambil berteriak menghujat team suksesnya, menyusul keduanya juga diindikasikan telah menebar uang sebelum pemungutan suara, pada salah-satu TPS di wilayah Kecamatan Wanaraja Garut.

Namun setelah dilakukan penghitungan suara, hasil sementara menunjukkan "keok" atau kalah telak sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan pada Polsek setempat, namun kini telah dilepaskan kembali ke alam bebas. Selain itu juga terdapat salah-seorang Caleg perempuan dari Parpol tertentu, yang mendadak meninggal dunia setelah mengetahui dari hasil perolehan suara sementaranya kalah telak, ungkap sumber yang enggan disebut namanya juga enggan menyebutkan identitas Caleg tersebut, Sabtu.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut, Dadang Sudrajat menyatakan di ruang kerjanya, hendaknya seluruh Caleg dari Parpol manapun bisa bersabar, karena hingga kini masih berlangsung rekapitulasi perhitungan suara.

Dengan agenda pada 11 - 15 April berlangsung rekapitulasi penghitungan suara di tingkat Panitia Pemungutan Kecamatan (PPK), dilanjutkan pada 17-19 April dilaksanakan rekapitulasi penghitungan suara di tingkat Kabupaten, sehingga penetapan perolehan suara sahnya pada 19 April 2009 mendatang, katanya. (Ant/OL-01)

Masihkah di antara kita yang masih berniat untuk mencalonkan diri dari caleg pada pemilu yang akan datang?

Thursday, April 9, 2009

ALTANTUYA, AKU SUNGGUH KECEWA

Altantuya,
Akhbar yang dilansir www.detik.com pada Kamis, 09/04/2009 14:22 WIB
dengan tajuk

2 Polisi Malaysia Divonis Mati Atas Pembunuhan Model Mongolia




yang isinya sebagai berikut:

Kuala Lumpur
- Pengadilan Malaysia menghukum mati dua polisi atas dakwaan pembunuhan seorang model asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu. Keduanya divonis hukuman gantung.

Kasus ini sempat menghebohkan Malaysia sebab korban merupakan mantan kekasih Abdul Razak Baginda, pembantu dekat Perdana Menteri Malaysia Najib Razak. Abdul Razak (48) tahun 2008 lalu dibebaskan dari dakwaan persekongkolan pembunuhan Altantuya.

Hakim Zaki Yasin memutuskan, Inspektur Kepala Azilah Hadri dan Kopral Sirul Azhar Umar terbukti bersalah atas pembunuhan wanita berumur 28 tahun itu. Pembunuhan itu terjadi antara 19 dan 20 Oktober 2006 lalu.

"Saya memvonis kalian berdua hukuman mati dengan digantung," kata hakim seperti dilansir harian Straits Times, Kamis (9/4/2009).

Saat pembacaan vonis, kedua terdakwa terlihat tenang, tanpa emosi. Para pengacara mereka menyatakan akan mengajukan banding atas putusan ini.

Penuntut sebelumnya telah menyatakan bahwa pembunuhan Altantuya diperintahkan oleh Abdul Razak. Namun dalam pengadilan Oktober 2008 lalu, analis pertahanan terkenal itu dinyatakan tidak bersalah atas dakwaan persekongkolan pembunuhan itu.

Namun dalam persidangan ini tidak terungkap motif kedua polisi itu membunuh Altantuya. Pengacara keluarga Altantuya pun menyatakan tidak puas. "Komunitas internasional tidak bisa menerima bahwa cuma dua orang ini yang bertanggung jawab. Itu pasti lebih dari itu," kata Karpal Singh, pengacara untuk keluarga Altantuya.

Kasus pembunuhan Altantuya ini sempat ramai diberitakan media Malaysia dan asing. Sebab para pemimpin oposisi Malaysia berulang kali mencoba mengaitkan PM Najib dan istrinya, Rosmah Mansor dengan kematian Altantuya. Najib dan Rosmah tegas membantah keterlibatan.

Demikian akhir akhbar itu.....
Apa yang dikatakan pengacara keluarga Altantuya di atas, memang benar adanya. Aku adalah salah seorang komunitas internasional itu. Apa kepentingannya kedua orang polisi itu membunuh dirimu. Mereka hanyalah eksekutor yang tentunya berdasarkan perintah dari orang yang berkepentingan dengan kematianmu itu. Nah, jika kedua polisi ini jadi dihukum gantung, sambutlah mereka di alam sana dan engkaupun pasti akan menyambut kedatangan mereka dengan rasa kasihan. Semoga otak di balik pembunuhan keji terhadap dirimu itu suatu ketika akan terungkap. Kalaupun tidak, jangan khawatir... pengadilan di akhirat kelak akan berpihak kepada kebenaran dan bukannya kepada kekuasaan.

Wednesday, April 8, 2009

KETIKA KITA HARUS MEMILIH

Huda, anak bungsu saya yang berusia 15 tahun menyampaikan pesan ustazah yang mengajar di kelasnya. "Golput itu haram, karena tidak taat kepada Ulil Amri". Lain lagi alasan yang diberikan seorang rekan saya: "Jika kita tidak ikut memilih, nanti orang yang tidak seagama dengan kita malah yang memanfaatkan. Kita bisa-bisa akan menanggung dosa ketika pemimpin negara kita berasal dari agama lain".

Untuk urusan memilih kepala negara, setakat ini saya memang sefaham dengan rekan saya ini. Negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam akan sangat janggal jika dipimpin oleh seorang presiden yang tidak seagama dengan rakyatnya. Sama halnya dengan kepala pemerintahan di Flores, misalnya, akan sulit seorang beragama Islam menjadi gubernur. Juga seorang Muslim nyaris mustahil menjadi gubernur Bali.

Terus terang, yang menjadi ganjalan saya selama ini adalah memilih calon anggota legislatif. Kasus demi kasus yang menimpa anggota legislatif selama ini membuat saya sangat muak terhadap mereka, meskipun yang berbuat amoral itu, katakanlah, segelintir kecil.

Rasa muak itu diperparah dengan pemberitaan upaya caleg yang nyaris menghalalkan segala cara agar terpilih. Konon, untuk mendapatkan urutan teratas, sang caleg harus setor ratusan juta rupiah, dan lebih parah lagi praktik seperti ini justeru terjadi di partai-partai yang berbasis Islam. Logika sederhana saya, "bagaimana dengan pencalonan di partai-partai yang jelas-jelas sekular?".

Tidak terlalu berlebihan jika di beberapa daerah, Rumah Sakit Jiwa telah menyiapkan ruangan khusus bagi para caleg yang gagal mewujudkan impiannya. Modal ratusan juta hingga milyaran yang sebagian dari mereka mungkin harus menggadaikan sebagian kekayaannya, bahkan konon ada yang menjual rumah dan tananya... demi menjadi seorang anggota legislatif!

Bagi para caleg yang menempuh jalan seperti itu, tidak sulit untuk ditebak, jika mereak terpilih nanti, yang ada di benak mereka tentunya bagaimana mengembalikan "modal". Maka tidak heran jika sebagian anggota legislatif itu terlibat dalam berbagai skandal seperti yang dibuktikan oleh mereka yang sudah divonis tahunan itu.

Anggota legislatif itu hakekatnya adalah wakil rakyat, tetapi pernahkah kita merasa terwakili oleh mereka? Katakanlah, pada PEMILU kali ini, si Fulan menjadi caleg Daerah Pemilihan (DAPIL) Jakarta Selatan, jika sang caleg ini nanti terpilih, akankah ia memperjuangkan kepentingan warga Jakarta Selatan? Lha, sang caleg itu sendiri asalnya dari mana, kita tidak tahu menahu.

Adalah sangat wajar jika akhirnya banyak orang yang mengkhawatirkan jumlah golput akan lebih banyak dari Pemilu sebelumnya.