Saturday, November 15, 2008

Seminar Pemanfaatan IT dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah dan Sekolah


Bertempat di IAIN Walisongo Semarang, atas undangan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di bawah naungan Fakultas Tarbiyah, saya menyampaikan presentasi tentang pemanfaatan IT dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah.

Seminar di laksanakan pada tanggal 15 November 2008, bertempat di auditorium 1 IAIN Walisongo Semarang.

Terima kasih saya ucapkan atas kepercayaan ini, terutama kepada yang terhormat DR. Suja`i selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan segenap dosen pembimbing.

Thursday, April 17, 2008

Ummu Hani di Gontor Puteri 1




Afaf Saifullah Kamalie bersama Ummu Hani





Tanggal 5 April 2008 merupakan hari yang bersejarah bagi Ummu Hani Abu Hassan, novelis muda kelahiran Kedah, Malaysia. Di hadapan sekitar 483 santri Pondok Modern Gontor Puteri 1, novelis yang juga pendakwah ini berbagi pengalaman.



Ummu Hani berbagai pengalaman kepada para santri



Acara yang dirancang oleh ananda Afaf Saifullah Kamalie dan Sumayyah Noor, keduanya merupakan santri kelas akhir dalam kepengurusan OPPM. Alhamdulillah, acara yang sudah direncanakan setahun lalu itu berjalan dengan lancar, meskipun bukan berupa bengkel penulisan. Ayahanda Ummu Hani dan tim Majalah Anis batal datang karena harus mengurus pameran buku di Kuala Lumpur.



Para santri Gontor Puteri 1 antusias menyimak pengalaman Ummu Hani


Kehadiran Ummu Hani yang disertai Puan Hamidah, ibundanya dan Prof. Dr. Kamaruzzaman Yosuf beserta isteri, Puan Zuriyati, cukup memberikan pencerahan kepada para santri.

Pada malam kedatangan para tamu agung dari negeri jiran ini, para peserta sudah mendapat suguhan menyegarkan berupa pemutaran drama tv berjudul IHSAN. Malam berikutnya merekapun menonton bareng drama serial berjudul CINTA MADINAH 2.


Selamat buat Afaf, Maya dan kawan-kawan yang telah membantu kalian.
Terima kasih buat Ummu Hani, Prof. Dr. Kamaruzzaman dan rombongan.
Terima kasih juga buat Ust. Ma`ruf, Ust. Muhtarom, dan segenap para ustaz dan ustazah pembimbing lainnya. Keramahtamahan antum semua begitu berkesan pada Ummu Hani dan rombongan. Semoga menjadi simpul tali ukhuwah kita yang abadi.

Ummu Hani di Gontor Puteri 1





Afaf Saifullah Kamalie bersama Ummu HaniAlhamdulillah, acara yang dirancang oleh ananda tercinta Afaf Saifullah Kamalie (ASK), sejak setahun yang lalu akhirnya terlaksana juga. Menjelang akhir kepengurusannya, ASK berazam untuk mengadakan sebuah acara yang lain dari biasanya. Dalam kesempatan mengunjunginya beberapa bulan yang lalu, aku menawarkan bagaimana kalau menghadirkan seorang novelis muda berbakat dari Malaysia. Mata ASK begitu berbinar mendapat tawaran seperti itu. Maka, ketika aku berada di Universiti Malaya, tempat Ummu Hani dan aku menuntut ilmu selama ini, akupun meminta kesediaan sang novelis muda ini untuk menjadi nara sumber dalam acara yang akan diadakan oleh ASK itu.[Photo] Ummu Hani ditemani moderatorMeskipun acaranya tidak jadi workshop penulisan novel Islam, karena tim majalah Anis berhalangan datang, para santri Gontor Puteri 1 mengikutinya dengan sangat antusias. Mereka mendapatkan banyak hal dari pengalaman Ummu Hani.[Photo] Santri Gontor Puteri 1 antusias mendengar pengalaman Ummu HaniAcara yang lebih tepat disebut "berbagi pengalaman" itu juga dimeriahkan dengan menonton drama tv produksi ayahanda Ummu Hani. Pertama, yang berjudul IHSAN dan berikutnya serial CINTA MADINAH 2. Drama IHSAN bahkan diputar pada malam kedatangan Ummu Hani. Begitu sampai dari bandara Adi Sumarmo, tanpa ganti pakaian dan tanpa mandi terlebih dahulu, Ummu Hani langsung diboyong ke aula yang letaknya cukup jauh dari tempat menginap. Keesokan harinya, ketika para santri dan ustazah ditanya responnya, mereka mengatakan, semua penonton pada menangis. Nah, berarti mereka faham isi drama yang menggunakan bahasa Malaysia itu. Syukurlah.Selamat buat Afaf Saifullah KamalieTerima kasih banyak buat Ummu Hani

Friday, March 7, 2008

HADZIHI FITNAH: Sebuah Gejala Faux Amis



Dalam ruang sidang pengadilan yang tengah mengadili Fakhri, tokoh sentral dalam Ayat-ayat Cinta (AAC), berulang kali terdengar teriakan hadirin, “Hazihi fitnah...hadizihi fitnah”. Ungkapan yang sama juga diucapkan oleh ibunya Fakhri ketika mendapat berita tentang penangkapan anaknya itu.


Film AAC, seperti yang dijelaskan secara gamblang oleh Hanung Bramantyo, sang sutradara, dalam blognya[2] sepenuhnya digarap di Indonesia, tepatnya di Jakarta dan Semarang -- kecuali beberapa adegan dibuat di India -- kendati setting kisahnya adalah Mesir. Impian Hanung untuk melakukan shooting di Kairo, kandaslah sudah karena keterbatasan biaya yang disediakan oleh produser. Namun, dengan kepiawaian Hanung dan tentunya segenap crew AAC, penonton tidak akan mengetahui kalau ruang sidang tempat Fakhri diadili itu ternyata ruang Gereja Imanuel Jakarta.
Wajah tampan Fedi Nuril, keanggunanan wajah Carissa Putri dan Rianti Cartwright mungkin cukup berhasil membantu mewujudkan tokoh Fakhri, Maria dan Aisyah. Celetukan bahasa Arab dialek Mesir yang sekali-kali terdengar adalah sangat wajar seperti itu karena mereka hanya beberapa hari saja kursus bahasa Arab. Namun, pemakaian kata fitnah yang berulangkali diucapkan dalam ruang sidang itu, bagi saya cukup “merisaukan”. Ini mengingatkan kepada artikel saya yang berjudul “Fitnah itu Lebih Kejam daripada Pembunuhan: Sebuah Gejala Faux Amis” yang dimuat di beberapa jurnal ilmiah dan pernah juga disampaikan sebagai kuliah umum dari Universitas Negeri Jakarta, pada tahun 2000.


Kata fitnah memang berasal dari bahasa Arab, tetapi maknanya dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dari makna asalnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fitnah adalah, “perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang…” (Edisi Kedua, hlm 277). Lalu kita sering mendengar ungkapan, “Eh, jangan memfitnah dong, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!”. Kata fitnah dalam bahasa Arab merupakan faux amis kata fitnah dalam bahasa Indonesia. Mengutip pendapat Vinay dan Darbelnet, Malone (1988:26) mengatakan bahwa istilah faux amis pertama kali diperkenalkan oleh Vuibert pada tahun 1928. Seorang pakar penerjemahan menjelaskan bahwa faux amis adalah, “…words or expressions which have the same form in two or more languages but convey different meanings” (Baker, 1992:25). Menurutnya, faux amis seringkali terjadi antara bahasa yang mempunyai hubungan kultural dan historis, seperti bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman. Tetapi sebetulnya bisa juga antara bahasa yang sama sekali tidak mempunyai hubungan, seperti bahasa Inggris, bahasa Jepang, dan Rusia. Ketika ungkapan satu kata dipinjam oleh sebuah bahasa, kita tidak dapat memprediksikan atau mengontrol perkembangannya atau penambahan maknanya yang mungkin terjadi. Inilah mungkin yang terjadi terhadap perkataan fitnah yang telah mengandung makna yang berbeda dari makna aslinya.

Ungkapan “fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan” terilhami oleh terjemahan surah al-Baqarah ayat 191 “Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan”, dan surat al-Baqarah ayat 217 “Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan”. Dalam Al-Quran dan Terjemahannya, kata fitnah dalam kedua terjemahan tersebut masing-masing diberi catatan kaki. Kata fitnah dalam ayat 191, catatan kakinya berbunyi, “Fitnah (menimbulkan kekacauan), seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama”. Catatan kaki untuk kata fitnah dalam ayat 217 berbunyi, “Fitnah di sini artinya penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan Muslimin”. Sayangnya, kedua ayat ini sering dikutip oleh penceramah dan khatib Jumat ketika mereka membahas masalah fitnah dalam pengertian bahasa Indonesia. Padahal jelas bahwa pengertian fitnah dalam kedua ayat tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan pengertian fitnah seperti yang dijelaskan dalam KBBI.

Dengan demikian, ungkapan “Hazihi fitnah!” yang diungkapkan dalam ruang sidang yang mengadili Fakhri, jika yang dinginkan adalah terjemahan dari “Ini fitnah” adalah kurang pas. Alih-alih menggunakan kata fitnah, mungkin kata-kata seperti tuhmah, qadzaf atau iftira’ lebih mendekati pengertian kata fitnah dalam bahasa Indonesia. Setidaknya, penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa Arab yang mengikuti rasa bahasa Arab sebenarnya akan menambah cita rasa suasana Cairo.

Jakarta, 8 Maret 2008.

Daftar bacaan:
Baker, Mona. 1992. In Other Worlds: A Coursebook on Translation. London: Routledge.
Malone, Joseph L. 1998. The Science of Linguistics in The Art of Translation. Albany State University of New York Press.
[2] (http://dearestmask.blogs.friendster.com/my_blog/2007/12/kisah_di_balik__1.html),

Friday, December 21, 2007

Hari Jadi Pernikahan ke-22

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah semata. Hari ini, Sabtu 22 Desember 2007 adalah hari jadi pernikahanku dengan

Munifah Manaf


yang ke-22. Tidak ada perayaan apa-apa. Kami hanya memperingatinya dengan mengucapkan rasa syukur. Tak terasa 22 tahun kami telah mengarungi samudera kehidupan rumah tangga ini. Tiga orang anak yang semuanya telah beranjak dewasa:

`Ammar Saifullah Kamalie

`Afaf Saifullah Kamalie
dan Si Bungsu

Huda Saifullah Kamalie


adalah sebagai penyejuk hati kami. Semoga mereka semua menjadi anak yang saleh, yang pandai mendoakan kedua orang tuanya ketika kami kelak telah berada di alam barzakh. Amin.


Kepada Anda, yang sempat membaca tulisan ini, dengan penuh kerendahan hati, kami mohon doa agar bahtera rumah tangga kami ini langgeng abadi. Jika Anda hingga kini belum mendapatkan jodoh pendamping hidup, kami doakan semoga Allah segera mengirim calon suami/isteri yang didambakan. Jika Anda yang membaca tulisan ini telah berumahtangga seperti kami, semoga Allah senantiasa melindungi kita semua, memberi kita keturunan yang saleh, berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Amin.


Ulujami, 22 Desember 2007.

Hari Jadi Pernikahan ke-22

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah semata. Hari ini, Sabtu 22 Desember 2007