Friday, April 13, 2018

Wednesday, July 4, 2012

Karyawan Jadi Juragan (di Mekah)

Nama: Mahmud Supriyatna Ttl: Rancaekek, 25 Maret 1985 Pemuda lulusan Pondok Pesantren I'anatush Shibyan, Plered, Purwakarta tahun 2005 yang akrab dipanggil Tata setelah selesai mondok, mengadu nasib di Jakarta. Setelah setahun menggeluti berbagai pekerjaan, Tata memperoleh informasi tentang visa bebas dari Mekah. Yang dimaksud dengan visa bebas adalah visa pekerja namun majikan memberi kebebasan kepada yang  bersangkutan untuk bekerja di mana saja. Visa bebas ini Tata tebus seharga 5000 Real Saudi. Ditambah ongkos tiket Jakarta-Jedah seharga Rp 3 jutaan dan ongkos proses keberangkatan di PT sehingga total biaya yang Tata keluarkan waktu itu mencapai 30 jutaan. Akhir bulan Februari tahun 2007 Tata yang waktu itu masih lajang terbang ke Saudi Arabia dan langsung menuju Mekah dan menemui rekannya yang mengirimi visa bebas. Berkat kenalan dengan warga Mesir di sebuah restoran, Tata mendapatkan pekerjaan sebagai resepsionis di sebuah hotel yang tidak jauh dari gerbang Universitas Ummul Qura. Gaji pertama yang Tata terima adalah 1200 Real Saudi (3,6 juta rupiah). Hotel Fajr, tempat Tata bekerja ketika itu belum lama beroperasi dan belum banyak dikenal pelanggan. Sampai tahun 2010 Tata bekerja sebagai resepsionis dengan gaji terakhir 1500 Real Saudi. Setelah tiga tahun bekerja, Tata berkesempatan pulang kampung tentunya dengan membawa keberhasilan. Modal tiga puluh juta sudah kembali dengan bekerja setahun. Jadi, selebihnya merupakan keuntungan dari gajih setiap bulan. Dengan sejumlah dana yang ia bawa, Tata bisa menikmati rumah hasil bekerja tiga tahun, selain beberapa bidang tanah darat dan beberapa petak sawah produktif. Selama cuti tiga bulan, Tata mengakhiri masa lajang dengan menikahi gadis Jawa Timur yang Tata kenal di Jakarta sebelum berangkat ke Mekah. Berbekal visa bebas yang ditebus seharga 6000 Real Saudi (18 juta rupiah), Tata memboyong sang isteri ke Mekah. Pada musim haji 2011, Tata memutuskan keluar dari Hotel Fajr untuk bekerja sebagai pemandu haji selama di Mekah. Jamaah haji yang Tata pandu kebanyakan berasal dari Singapura. Pendapatan memandu hari per hari adalah USD 100. Pekerjaan ini Tata geluti selama tiga mingguan. Usai bekerja sebagai pemandu, Tata bekerja sebagai pemasok makanan khas Indonesia ke berbagai toko yang berada di lingkungan pemondokan jemaah haji Indonesia. Makanan seperti pukis, martabak, kerupuk, rengginang, rempeyek, dadar gulung dan lemper Tata produksi sendiri dengan melibatkan dua orang tenaga kerja yang digaji per hari 50 Real Saudi. Pekerjaan ini Tata lakoni hingga akhir musim haji. Perolehan Tata bekerja mandiri sebagai pemandu, produksi dan memasok sejumlah makanan Indonesia selama musim haji mencapai 50 ribu Real Saudi (150 juta rupiah). Selesai musim haji, Tata ditawari kerja kembali di Hotel Fajr. Kali ini sang manajer menawarkan dua pilihan: sebagai karyawanan untuk mengelola Coffee Shop, atau sebagai penyewa. Sebagai karyawan, Tata ditawari gaji seperti sebelumnya, yaitu 1500 Real Saudi. Tata minta 2000 Real Saudi dan sang manajer tidak setuju. Akhirnya pilihan kedua Tata ambil, menyewa Coffee Shop seharga 1000 Real Saudi per bulan. Dengan mengambil pilihan kedua ini, kini Tata bukan lagi sebagai karyawan lagi, tetapi sebagai Juragan Coffee Shop yang  mampu menggaji seorang warga Bangladesh sebesar 300 Real Saudi. Gaji yang diberikan Tata ini hanya selisih 50 Real Saudi dengan gaji yang diterima oleh karyawan Dallah Barokah milik Milyarder Saudi, Saleh Kamil yang bekerja di katering yang memasok makanan di Universitas Ummul Qura, tempat penulis mengikuti pelatihan selama 45 hari. Tata hidup berdua dengan isteri tercinta di wilayah Aziziyyah, di rumah sewaan per bulan 700 bersih. Rumah dengan dua kamar ini sekaligus dijadikan pusat produksi aneka makanan ringan yang sehari-hari dipasok ke warung Jawa (maksudnya warung yang menyediakan aneka makanan Indonesia). Di luar musim haji makanan yang diproduksi hanya berupa kerupuk saja. Dengan penghasilan kotor per bulan 6000 Real Saudi, kini Tata bisa hidup sejahtera bersama isteri tercinta dan secara rutin mentransfer sejumlah dana kepada kedua orang tua di kampung halaman. Mahmud Supriyatna alias Tata dapat dihubungi melalui: HP +966558759517 Facebook: محمود انساني

Monday, August 2, 2010

ANAK PEREMPUAN DAN ANAK LELAKI

Ketika berlangsung seminar internasional bahasa Arab di kampus Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) baru-baru ini, di antara makalah yang disampaikan oleh peserta adalah tentang penggunaannya kata Allah oleh masyarakat non-muslim di Malaysia. Dr. Akmal Khuzairi, dosen Universiti Islam Antarbangsa Malaysia, penyaji makalah tersebut memaparkan asal-usul kata Allah, apakah kata tersebut merupakan nama diri asli atau derivatif (bentukan)? Artinya, jika kata Allah itu nama diri asli, berarti ia merupakan nama khas untuk Tuhan yang selama ini diyakini hanya disembah oleh umat Islam. Namun jika kata tersebut merupakan nama diri derivatif, yaitu berasal dari kata al-ilah yang berarti tuhan, maka nama tersebut berlaku untuk semua tuhan yang disembah oleh siapa pun.

Di Indonesia, kata Allah digunakan oleh selain umat Islam dengan sedikit perbedaan dalam pelafalan. Umat Kristiani menyebutnya dengan /alah/, tanpa menebalkan bunyi huruf /el/ dan tetap membunyikan huruf /a/ sebagai bunyi /a/. Mungkin karena adanya perbedaan pelafalan inilah, umat Islam Indonesia tidak pernah mempermasalahkan penggunaan kata Allah oleh masyarakat bukan-Muslim.

Islam di Malaysia merupakan agama resmi kerajaan. Islam identik dengan Melayu, sehingga bila ada orang China memeluk agama Islam, ia akan dikatakan bahwa dirinya telah menjadi orang Melayu.

Pada umumnya nama diri masyarakat Melayu masih sangat kental dengan nuansa Arab, berbeda dengan nama diri masyarakat Muslim di Indonesia. Nama diri masyarakat Melayu ini bukan hanya bernuansa Arab, tetapi juga dalam penyantuman orang tua mereka. Hampir di setiap nama diri disebutkan kata bin atau binti. Misalnya, Umar bin Abdurrahman dan Faizah binti Ali. Kedua kata ini, bin dan binti berasal dari bahasa Arab yang berarti anak perempuan dan anak lelaki. Di negara asalnya, kedua kata ini digunakan baik oleh masyarakat Muslim maupun masyarakat bukan-Muslim. Namun di negara jiran kita ini, kedua kata ini tampaknya telah menjadi monopoli masyarakat Melayu yang nota bene adalah masyarakat Muslim. Hal ini baru saya sadari ketika menghadiri wisuda di Universitas Malaya. Ketika para lulusan (graduan) dipanggil satu per satu ke atas panggung, berulang kali saya mendengar perkataan anak perempuan dan anak lelaki. Misalnya, Priya anak perempuan Mogan dan Saravanan anak lelaki Paramesvaran. Setelah berulangkali saya perhatikan, kesimpulan sementara saya adalah bahwa setiap nama yang menggunakan perkataan anak perempuan dan anak lelaki itu tak satu pun yang berasal dari bahasa Arab. Nama-nama tersebut adalah nama-nama masyarakat India. Dan betul, setelah saya cek dalam buku wisuda, saya temukan nama-nama tersebut: Priya a/p Mogan dan Saravanan a/l Paramesvaran. Sebetulnya saya sudah lama menemukan singkatan a/p atau a/l ini dalam buku atau tulisan, tetapi tidak pernah menduga bahwa singkatan tersebut adalah anak perempuan dan anak lelaki.

Nah, apakah perkataan bin dan binti ini kedudukannya sama dengan perkataan Allah? Setakat ini saya belum menemukan pembahasannya.

Tuesday, March 16, 2010

PENERJEMAHAN BUKAN SEKADAR MENGALIHKAN PESAN

Pada umumnya kita mengetahui bahwa penerjemahan adalah pengalihan pesan dari bahasa sumber (Bsu) ke bahasa sasaran (Bsa). Yang dialihkan bukanlah bentuk bahasa yang memang nyaris mustahil dialihkan karena setiap bahasa mempunyai sistem tersendiri yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya.

Jika diamati secara sepintas, buku-buku agama hasil terjemahan dari bahasa Arab yang beredar di pasar tampaknya merupakan sekadar hasil pengalihan pesan. Dengan perkataan lain, penerjemah dan penerbit telah merasa puas dengan telah mengalihkan pesan dari penulis buku berbahasa Arab menjadi buku berbahasa Indonesia. Mereka tidak memperdulikan bahwa struktur kalimat bahkan beberapa kosa-katanya sangat kental terpengaruh sistem bahasa Arab.

Dalam sebuah blog, sebuah judul tulisan berbunyi, "Gigitlah Sunnah ini dengan Gigi Gerahammu". http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/20/gigitlah-sunnah-ini-dengan-gigi-gerahammu/

Sementara itu, menurut teori penerjemahan "the best translation does not sound like translation", seakan-akan pesan ini tidak pernah dipertimbangkan oleh para penerjemah buku atau teks berbahasa Arab. Lebih dari itu, seorang guru besar bahasa Arab -- bukan penutur asli, memang -- menafikan kalau kolokasi bukan termasuk masalah penerjemahan. Menurutnya, selama pesan Bsu tidak dapat dialihkan 100% ke Bsa, penerjemahan apa pun tidak dapat dikatakan "masalah". Jadi, sangatlah wajar jika buku-buku terjemahan dari bahasa Arab yang ada di pasar tidak "sedap" dibaca karena bagi sebagian orang penerjemahan sudah dianggap selesai selama para pembaca Bsa memahaminya.

Sunday, March 7, 2010

KENTALNYA LIDAH WARGA MALAYSIA


Suatu petang TV3, stasiun tv swasta Malaysia menayangkan acara berjudul "Jalan-jalan Cari Makan", semacam "Wisata Kulinernya" Pak Bondan. Pembawa acaranya seorang wanita muda dengan pakaian trendi, tanpa menutup aurat sebagai wanita Muslimah secara penuh. Rambutnya dipotong pendek. Serina Ridzuan, namanya. Ada satu hal yang membuat saya cukup terpukau adalah ketika si pembawa acara ini memancing dan umpan di kailnya, secara spontan dia berteriak, "`AUDZU BILLAHI MINASY SYAITHANIR RAJIM BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM" dengan ucapan yang sangat fasih. Ucapan spontan tersebut terlontar ketika seekor ikan besar menyambar mata pancing. Ucapan seperti itu -- bagi kita warga Indonesia -- mungkin sulit kita dengar dari para pembawa acara yang bukan berbau agama.

Ketakjuban saya semakin bertambah ketika bintang tamu dalam acara itu, yaitu seorang selebritis yang cukup terkenal hendak menyantap hidangan. Dengan serta merta pula dan dengan suara yang cukup lantang membaca doa sebelum makan. Sekali lagi, acara yang ditayangkan adalah semacam wisata kuliner, ditayangkan oleh tv swasta dan bukan dalam bulan puasa.

Simpulan yang saya peroleh, pendidikan agama di Malaysia sedemikian kuat sehingga membekas dalam diri warganya. Hal itu tampak pula dalam penggunaan nama asli mereka yang memang sangat kental berbau bahasa Arab, Siti Nurhaliza, misalnya. Artis jelita yang telah menjadi isteri seorang pengusaha ternama ini tanpa sungkan memanggil dirinya dengan "siti", nama yang bagi sebagian orang terdengar kampungan.

Wednesday, February 24, 2010

PEMAKZULAN: SEBUAH DISKRIMINASI LINGUISTIK

Masih ingat kasus kasus orang miskin yang mencuri buah kakao yang dimejahijaukan dan mendapat hukuman sekian tahun, sementara yang merampok uang rakyat trilyunan rupiah masih bebas berkeliaran?

Nasib wong cilik memang selalu terpinggirkan, bahkan bukan di mata hukum tetapi juga di mata bahasa. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sering mendengar kata-kata pemakzulan. Akar kata pemakzulan adalah makzul. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online disebutkan:

mak·zul v berhenti memegang jabatan; turun takhta;
me·mak·zul·kan v 1 menurunkan dr takhta; memberhentikan dr jabatan; 2 meletakkan jabatannya (sendiri) sbg raja; berhenti sbg raja;
pe·mak·zul·an n proses, cara, perbuatan memakzulkan


Kata makzul berasal dari bahasa Arab معزول /ma`zul/ bentuk ism maf`ul (active participle) dari verba عزل /`azala/ yang bersinonim dengan /khala`a/ = mencopot.

Bagi Anda yang mengetahui bahasa Arab harus bersyukur bahwa kata makzul dan bentuk derivasinya mengandung makna lebih dibandingkan kata mencopot. Memberhentikan seorang yang memiliki jabatan tinggi seperti raja, presiden atau wakilnya digunakan kata memakzulkan dan bukannya mencopot. Nuansa makna luhur ini juga terasa ketika kita menggunakan kata nikah dan kawin. Seorang jejaka dinikahkan dengan seorang gadis, tetapi kucing jantang dikawinkan dengan kucing betina. Dari sisi ini kita memang bersyukur, tetapi sekaligus prihatin bahwa orang-orang berkuasa mendapat perlakuan linguistik yang berbeda dengan para wong cilik.

Saturday, January 2, 2010

BAHASA MENUNJUKKAN HARGA

Pekuburan atau kompleks makam dikenal dengan Taman (Tempat) Pemakaman Umum yang disingkat menjadi TPU. Di Jakarta, misalnya, ada TPU Tanah Kusir, TPU Karet. Selain TPU juga terdapat tempat pemakaman di lahan wakaf dari seseorang. Tempat pemakaman seperti ini tentu saja tidak dikelola oleh pemerintah. Sama halnya dengan tanah pemakaman milik pribadi di banyak daerah.

Saya pernah mendengar bahwa di Jakarta, bukan hanya orang hidup yang susah, tetapi juga orang mati. Jika orang meninggal dunia di Jakarta, ia sedikitnya harus meninggalkan sejumlah uang di atas lima jutaan jika dirinya ingin dikuburkan di wilayah Jakarta. Keluarga yang ditinggalkan pun harus bersiap-siap mengeluarkan sejumlah uang untuk sewa tanah dan upah kepada petugas kebersihan TPU. Karena berada di bawah pengelolaan pemerintah dan adanya iuran dari keluarga almarhum, kondisi makam yang berada di TPU pada umumnya bersih dan rapih, berbeda dengan makam yang berada di area pribadi.

Nah, berbicara tentang Taman Pemakaman Umum ini, sejak tahun 2007 orang-orang berduit di Indonesia kini punya tempat alternatif jika dirinya meninggal kelak. Mereka akan mendapat lokasi yang jauh lebih baik dari TPU. Meskipun berlokasi di daerah Karawang, Jawa Barat, nama pekuburan tersebut sama sekali tidak mencerminkan budaya lokal:

SAN DIEGO HILLS

MEMORIAL PARK & FUNERAL HOMES

Sehingga sangat wajar jika mengklaim "there is no other cemetery like this..."
Sekali lagi, tempat pemakaman ini terletak di daerah Karawang, Jawa Barat. Dengan menggunakan bahasa Inggris seperti ini tentu saja segmen pasar yang dibidik bukanlah penduduk sekitar. Untuk ukuran makam termurah seluas 1,5 x 2,6 meter dipatok harga Rp. 8 juta. Yang termahal mencapai ratusan miliar rupiah. Konon sudah banyak pejabat terkenal dari negeri ini yang sudah memesan kavling di pemakaman mewah ini. Nah, jika harga yang paling murah adalah Rp. 8 juta adalah sangat wajar jika pemakaman ini diberi nama San Diego Hills dan bukannya Bukit Citayam, misalnya. Bahasa memang benar menunjukkan harga.


Monday, December 21, 2009

BAHASA ARAB TERANCAM PUNAH?


Berita cukup mengejutkan disampaikan oleh Prof Dr Ja`far Abdussalam, Sekjen Liga Universitas-universitas Islam: Bahasa Arab termasuk salah satu dari 27 bahasa di dunia yang terancam punah. Beliau menyampaikan berita itu merujuk data yang disampaikan UNESCO. Sebagai warga Mesir yang telah berkeliling ke berbagai pelosok dunia -- termasuk tentunya negara-negara Arab dan Islam -- menurutnya pernyataan lembaga PBB yang mengurusi bidang kebudayaan dan pendidikan ini tidaklah terlalu berlebihan. Kenyataan yang pernah beliau saksikan dengan mata kepalanya sendiri di beberapa negara Arab adalah bahwa memang bahasa Arab tidak mendapat perhatian yang semestinya dari bangsa Arab itu sendiri. Tidak sedikit orang-orang Arab yang lebih bangga berbicara dan menggunakan bahasa Inggris.

Berita tersebut disampaikan oleh Prof Dr Ja`far Abdussalam dalam sambutannya di Workshop Standardisasi Kemampuan Bahasa Arab Lulusan Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia. Workshop diadakan atas kerja sama antara dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI dengan Pusat Pengembangan Bahasa dan Budaya yang bertempat di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta yang berlangsung dari tanggal 21 hingga 23 Desember 2009.

Sejumlah pakar bahasa Arab di berbagai perguruan tinggi agama Islam hadir untuk berbagai pengalaman dalam pembelajaran bahasa Arab. Dari workshop ini diharapkan tercapai kesepakatan untuk disusunnya standardisasi kemampuan bahasa Arab seperti halnya TOEFL untuk bahasa Inggris.

Sepatutnya standardisasi ini dibuat oleh negara/pemerintah yang bahasa resminya adalah bahasa Arab. Namun sayang sekali hingga saat ini belum ada alat ukur kemampuan berbahasa Arab seperti TOEFL untuk bahasa Inggris. Kalaupun ada test kemampuan yang selama ini dikenal dengan Test of Arabic as Foreign Language (TOAFL) maka test ini dibuat oleh beberapa institusi tertentu. Misalnya UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Kalijaga, dan UIN Malang. Upaya gigih dari sejumlah pakar bahasa Arab yang berkebangsaan Indonesia ini setidaknya memperkuat keprihatinan Prof Dr Ja`far Abdussalam di atas.

Saturday, December 19, 2009

WORKSHOP ICT DI CIPASUNG


Sebanyak 6 orang dosen dan 10 orang mahasiswa Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Jurusan Pendidikan Bahasa Arab turut serta dalam Workshop Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis ICT yang diadakan selama dua hari, Sabtu-Ahad 19-20 Desember 2009. Workshop diadakan di Ruang Multimedia Gedung Perpustakaan IAIC.

Workshop dibuka secara resmi oleh Bapak H. Tatang Sunarya selaku sekretaris penanggung jawab Center of Exellent Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis ICT.

Workshop terselenggara atas undangan rekan al-Akh Ustaz Asep M Tamam, kandidat doktor bidang bahasa Arab di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selain atas undangan beliau, workshop ini juga terselenggara dengan baik atas jasa Ustaz Yusuf Ali, Ustaz Khairul Azami, Ustaz Jajang dan tidak lupa Mang Jajang.

Saturday, December 12, 2009

ULAH (OKNUM) BANGSA YANG SANTUN?

Rabu 9 Desember 2009, setelah beberapa saat menunggu, Kereta Api Argo Sindoro pun muncul. Panitia membelikan tiket kelas eksekutif (karena memang hanya kelas itulah yang ada dalam kereta api tersebut).


Interior Argo Sindoro tidak jauh berbeda dengan Argo Bromo Anggrek. Namun, begitu saya menempati tempat duduk, ada sesuatu yang cukup mengganggu pemandangan mata.


Kaca jendela dalam satu gerbong nyaris semuanya pecah. Apakah di gerbong lainnya juga seperti itu. Entahlah. Ketika saya tanyakan kepada petugas, biasanya "orang-orang biadab" itu melemparkan batu pada malam hari. Oh, apa salah benda yang bernama kereta api ini?

Saya pernah membaca berita tentang kaca jendela kereta api yang dilempar dan batunya mengenai penumpang. Tentu saja terluka.

Inikah cermin bangsa yang katanya dikenal santun itu?

Tuesday, December 8, 2009

AKRABI ICT UNTUK RAIH SKOR TOAFL TERTINGGI



Sebanyak 25 orang dosen STAIN Pekalongan dengan penuh antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan ICT untuk pembelajaran bahasa Arab dengan tema "Akrabi ICT untuk Meraih Skor Tertinggi". Pelatihan yang berlangsung hari Selasa 08 Desember 2009 dari jam 09.00 hingga 15.30 berlangsung di Gedung Perpustakaan Ruang Lab Internet. Udara panas -- karena memang ruangannya belum dipasang sistem pendingin -- tidak mengurangi minat para peserta. Saya yang sengaja diundang panitia sebagai nara sumberpun merasa sangat bahagian melihat antusias mereka ini.

Materi yang disampaikan di antaranya bagaimana menjadikan internet sebagai sumber pembelajaran bahasa Arab. Misalnya situs berita BBC Online yang menyediakan berbagai bahasa seperti bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Teks dalam kedua bahasa tersebut sering tampak seperti terjemahan. Banyak frasa yang sepadan, bahkan tidak jarang satu paragraf penuh tampak seperti hasil penerjemahan.

Materi lain adalah pemanfaatan parabola. Dengan menggunakan alat yang disebut DVB World, siaran parabola dapat dilihat lewat komputer dan disimpan dalam hard disk.

Atas keberhasilan pelaksanaan penataran ini secara pribadi saya ucapkan banyak terima kasih kepada panitia, utamanya kepada al-Akh Muhandis Az Zuhri (sekretaris panitia), kepada al-Akh Miftahul Ula (ketua), al-Akh Abdul Aziz (Ketua UPB) dan tak lupa kepada Mas Eka yang telah banyak membantu menginstal dan menyeting beberapa program untuk terlaksananya pelatihan ini.

Wednesday, November 4, 2009

TIKUS

Selain menjijikkan dan menjengkelkan, tikus ternyata dapat menimbulkan penyakit yang cukup mematikan. Menurut Warta Medika (http://www.wartamedika.com/2009/02/penyakit-kencing-tikus.html), jika penyakit yang ditimbulkan oleh binatang mengerat ini tidak mendapat penanganan yang tepat, penyakit akan berakhir dengan kematian.


Selanjutnya Warta Medika menyampaikan bahwa dalam dunia medis, penyakit ini lazim disebut leptospirosis, sesuai dengan bakteri penyebabnya yaitu leptospira. Nama penyakit kencing tikus tampaknya diambil dari media penularannya, yaitu dominan melalui kencing tikus.

Bakteri leptospira yang keluar bersama kencing tikus dapat bertahan hidup di air selama beberapa minggu sampai bulanan. Pada musim hujan dan banjir, penyebaran bakteri ini semakin luas dan mudah berkontak dengan manusia. Oleh karena itu, insiden penyakit ini umumnya meningkat pada musim hujan atau banjir. Walaupun demikian, bisa saja timbul kasus saat musim kemarau.

Bakteri ini dapat menjangkiti manusia melalui berbagai macam rute. Misalnya, melalui luka kulit, selaput mukosa seperti mata dan hidung (saat mencuci muka), atau melalui air dan makanan.

Gejala awal infeksi leptospirosis pada manusia antara lain adalah demam tinggi, menggigil, sakit kepala, letih lemah lesu, muntah, mata merah, nyeri otot, dll. Gejala ini tidak spesifik dan seringkali menyerupai gejala penyakit lain seperti infeksi saluran napas akut, demam berdarah, dll. Oleh karena itu kadangkala sulit untuk membedakannya dengan penyakit-penyakit tersebut.

Seiring dengan perjalanan penyakit, akan timbul gejala-gejala khas leptospira seperti warna kuning pada mata dan kulit, nyeri tekan betis, serta perdarahan pada air kencing. Selain itu, dapat terjadi kerusakan pada organ tubuh seperti otak, ginjal, dan hati.

Begitu menyeramkannya akibat yang ditimbulkan oleh tikus-tikus yang memang suka kencing sembarangan itu.

Tak seorang pun di antara kita yang senang dengan kehadiran tikus. Bukan karena ulahnya suka mencuri makanan saja, tetapi perbuatannya yang suka merusak segala macam. Maka tak heran jika koruptor selalu disimbolkan dengan binatang yang menjijikkan dan menjengkelkan ini.

Bukankah gara-gara "tikus-tikus" ini KPK berseteru dengan Polri.
Bukankah gara-gara "tikus-tikus" ini suasana Jakarta dan beberapa kota lainnya di tanah air ini sempat memanas?
Bukankah gara-gara "tikus-tikus" ini kekayaan negeri ini menguap entah kemana?
Bukankah gara-gara "tikus-tikus" ini puluhan juta rakyat hidup sengsara padahal kekayaan alam melimpah ruah?
Bukankah gara-gara "tikus-tikus" ini juga jika biaya pendidikan di negeri ini terus membumbung tinggi?

Monday, October 19, 2009

RUMAH IDAMAN

Apa perasaan kita jika mendapatkan sebuah rumah yang berlokasi di kawasan Cikeas? Terlebih jika ketua RT atau RW-nya ternyata Pak SBY?

Jika selama di dunia ini Anda tidak sempat mendapat rumah idaman, entah dari segi lokasi atau pun dari segi modelnya, Anda tidak perlu berputus asa. Di alam sana nanti ada rumah yang diketuai oleh Rasulullah s.a.w. Rumah tersebut dapat dicicil dari sekarang. Anda tertarik? Simaklah sabda beliau:

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقا ، وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحا ً ، وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه

) رواه أبو داود والبيهقي في الكبرى)

“Aku ketua di rumah yang berada di sekitar surga yang diperuntukkan bagi orang yang meninggalkan perdebatan kendati ia benar, dan ketua di rumah yang berada di tengah surga yang diperuntukkan bagi orang yang meninggalkan dusta kendati hanya bersenda gurau, dan ketua di rumah yang dibangun di puncak surga yang diperuntukkan bagi orang yang baik budi pekertinya”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra

GEMPA BUMI DAN BENCANA: ANTARA PENALARAN ILMIAH DAN DIMENSI IMANI

Pembicaraan tentang apakah ada korelasi antara gempa bumi atau bencana alam dengan perbuatan dosa yang dilakukan manusia, ternyata tidak hanya dimonopoli kita, orang Indonesia yang memang sering ditimpa bencana akhir-akhir ini. SMS berantai yang mengaitkan angka jam terjadinya gempa di Sumatera Barat dan Jambi baru-baru ini ternyata masih ramai diperbincangkan dan diperdebatkan. Tidak sedikit yang berkomentar bahwa pembahasan tersebut sangat tidak manusiawi di tengah-tengah penderitaan keluarga para korban. Saya sebagai salah seorang yang memaparkan kandungan ayat-ayat dengan angka yang menunjukkan jam terjadinya gempat itu tidak luput mendapat “serangan” dari salah seorang yang kebetulan berasal dari daerah Sumatera Barat. Jika saya ikut mempublikasikan ayat dan terjemahannya dengan nomor jam terjadinya gempa tersebut semata-mata karena isinya sangat relevan. Ayat-ayat tersebut sama sekali bukan untuk menambah penderitaan keluarga para korban, tetapi semata-mata sebagai bahan introspeksi bagi kita yang masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Gempa bumi hanyalah salah satu di antara sebab datangnya kematian, dan kematian itu sendiri datangnya dengan seribu satu macam cara. Dengan terjadinya berbagai macam musibah, kita tidak hanya perlu mempelajari bagaimana agar musibah serupa tidak menimpa kita, tetapi yang paling penting adalah, “Sudah siapkah kita dijemput ajal kapan saja dan di mana saja?”. Musibah banjir mungkin masih bisa dicari “kambing hitam”nya. Entah itu karena penggundulan hutan sebagai akibat keserakahan manusia dan perbuatan korup para penguasa yang mengeluarkan izin. Lalu, bagaimana dengan musibah gempa bumi? Siapa yang dapat dijadikan “kambing hitam”?.

Prof Dr Zaghlul Raghib Al-Najar, pakar geologi dari Mesir, pernah ditanya tentang korelasi antara gempa bumi dan bencana lainnya dengan dosa manusia. Jawaban beliau sebagai berikut:

Semua fenomena kosmis seperti gempa bumi, gunung berapi dan badai adalah salah satu prajurit Allah. Peristiwa alam ini terjadi untuk menghukum orang-orang yang bersalah dan sebagai ujian bagi orang-orang saleh, dan pelajaran bagi para korban yang selamat. Pemahaman kita tentang mekanisme terjadinya berbagai fenomena alam ini tidak dapat mengeluarkannya dari statusnya sebagai bagian dari balatentara Allah. Jika kita tidak memandangnya dengan persepsi imani seperti ini, umat manusia tidak akan menjadikannya sebagai pelajaran, meskipun mereka dapat memprediksikan terjadinya atau menciptakan berbagai alat canggih untuk menghadapinya. Tentang hal ini Imam Ali – semoga Allah memuliakan wajahnya – berkata, “Tidaklah azab itu terjadi melainkan karena adanya dosa yang dilakukan, dan tidaklah azab itu diangkat melainkan karena adanya taubat”. Ayat-ayat yang berkenaan dengan berbagai hukuman dalam Al-Quran, semuanya merupakan jawaban terhadap dosa-dosa yang dilakukan umat manusia. Di antara ayat Al-Quran yang paling menonjol yang berbicara tentang gempa bumi, disebutkan dalam surah Al-Nahl:

ﯿ النحل: ٢٦

“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”. Al-Nahl 26.

Menurut Prof Dr Zaghlul Raghib Al-Najjar, beliau belum menemukan penggambaran tentang gempa bumi yang lebih hebat dari yang disebutkan dalam surah Al-Nahl ayat 26 ini. Bencana seperti ini diturunkan sebagai jawaban terhadap perbuatan makar orang-orang yang durhaka. Kemudian beliau mengajak agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari fenomena alam ini dan meletakkannya dalam kerangka yang benar seperti yang telah dijelaskan, yaitu: sebagai hukuman bagi orang-orang yang durhaka, sebagai ujian bagi orang-orang yang saleh dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang selamat dari bencana tersebut.

Bagaimana dengan menanggapi bencana ini dengan pendekatan ilmiah? Prof Dr Zaglul Raghib Al-Najjar mengatakan, jika umat manusia dapat menciptakan sarana dan prasarana untuk melindungi diri dari bencana ini, maka hal itu tidaklah berdosa dan tidak ada salahnya. Namun, yang harus diingat adalah bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk memprediksikan terjadinya gempa dan semua upaya tersebut tidak berguna untuk menghadapinya atau memprediksi waktu terjadinya dalam waktu yang cukup untuk menghindari bencana yang akan ditimbulkannya. Pada pertengahan tahun tujuh puluhan, orang-orang Cina berhasil memprediksi terjadinya gempa. Prediksi mereka dapat dibuktikan sehingga mereka bersuka cita luar bisa. Mereka diundang ke sebuah konferensi internasional untuk berdiskusi dengan para ilmuwan dunia tentang keberhasilan mereka memprediksi terjadinya gempa. Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui telah berkehendak agar gempa terjadi dan daerah tempat berlangsungnya konferensi internasional itu pun berguncang dengan dahsyat, memporak-porandakan gedung tempat mereka berdiskusi. Konferensi itu pun berakhir tanpa hasil apa-apa.

Thursday, October 15, 2009

KAMPUNG IDIOT

Sebagai seorang warga yang pernah hidup selama delapan tahun di sebuah desa yang termasuk Kabupaten Ponorogo dan kini tinggal jauh dari kota tersebut adalah sangat wajar ketika nama kota tersebut itu disebut-sebut seseorang. Terlebih lagi yang menyebut Kota Reog itu adalah penyiar di stasiun TV swasta nasional pula. Berita apa pun berkenaan dengan kota tersebut akan sangat sayang jika diacuhkan, termasuk berita yang dibacakan oleh penyiar TV swasta tersebut. Petang kemarin, Kamis 15 Oktober 2009, bahwa di desa Balong, Kabupaten Ponorogo ditemukan banyak warga yang mengalami keterbelakangan mental alias idiot. Menurut pengamatan reporter TV tersebut, di antara sebabnya adalah karena warga desa tersebut hidup di bawah garis kemiskinan yang telah berlangsung puluhan tahun. Mereka kekurangan gizi. Tidak jarang di antara mereka yang makan nasi tiwul yang terbuat dari singkong, bahkan nasi tiwul yang mereka konsumsi juga bisa berupa nasi tiwul yang telah mereka tanak berulang-ulang. Tanah tempat mereka tinggal memang sangat tandus. Mereka hidup di rumah-rumah gedek yang beralaskan tanah yang berdebu.

Sorotan kamera yang berulang kali diarahkan ke alas rumah mereka yang berupa tanah berdebu itu semakin lengkap menggambarkan penderitaan mereka ketika berita tentang mereka itu diberi judul "Kampung Idiot". Oh, betapa memilukannya.

Jika Balong disebut sebagai "Kampung Idiot", tidak jauh dari kampung tandus itu, masih sama-sama berada di Kabupaten Ponorogo terdapat kampung yang keadaannya sangat kontras. Itulah Gontor, desa yang namanya lebih dikenal sebagai nama pesantren modern yang sangat kesohor itu. Saking terkenalnya, semua pesantren cabang yang ada di pelosok mana pun diberi nama Pondok Modern Gontor, seperti yang ada di Mantingan, Ngawi, juga di Lampung. Gontor dikenal dengan "Kampung Damai" sebagai terjemahan dari Darussalam. Entah sudah mencapai berapa milyar perputaran uang di pesantren yang telah mengeluarkan sejumlah tokoh nasional itu.

Ketika Kiyai Imam Zarkasyi masih hidup, beliau pernah merasa "gerah" ketika salah seorang petinggi Departemen Agama RI ada yang mengatakan bahwa Pondok Modern Gontor tak ubahnya seperti Menara Gading. Warga di sekitarnya hidup sengsara sementara warga dalam pondok pesantren itu hidup berkecukupan. Karena adanya kesenjangan antara kedua kelas warga tersebut, para santri dan pengajar pun sering merasakan adanya ketegangan. Kondisi seperti itu kini tinggal kenangan. Pembinaan pesantren terhadap penduduk sekitar telah berjalan dengan baik. Mereka dirangkul dalam berbagai aspek kehidupan. Seluruh warga Gontor kini telah merasa memiliki pesantren modern ini.

Berkah keberadaan Pondok Modern ini bukan saja dirasakan oleh warga sekitar desa Gontor saja, bukan pula oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo, tetapi oleh bangsa Indonesia itu sendiri. Pondok Modern Gontor cabang yang didirikan di sejumlah daerah, seperti Lampung, Kendari dan Aceh, misalnya, telah membuka lapangan kerja dan berbagi berkah kepada warga yang tinggal di sekitar pesantren itu.

Alangkah menyejukkan hati jika suatu ketika "Kampung Idiot" yang berada di Balong, Kabupaten Ponorogo itu diberitakan telah berubah menjadi "Kampung Damai" seperti yang berada di desa Gontor itu. Ya Allah, bukalah pintu hamba-hamba-Mu yang punya wewenang dan kemampuan untuk mengubah kondisi sebagian hamba-hamba-Mu yang kurang beruntung itu.

Monday, October 12, 2009

TERSENYUM DAN TERSENYUMLAH


Para ilmuwan mempelajari dampak tersenyum pada orang lain. Mereka menemukan bahwa senyum itu membawa informasi yang kuat yang dapat mempengaruhi pikiran bawah sadar manusia! Hasil temuan penting dari penelitian tersebut adalah bahwa para ilmuwan berbicara tentang sebuah pemberian yang dapat diberi-kan kepada orang lain dengan diiringi senyuman. Ternyata senyum jauh mengungguli pemberian materi dengan beberapa alasan:

1 – Melalui senyuman, Anda dapat memasukkan perasaan senang kepada hati orang lain. Membuat orang lain merasa senang merupakan salah satu pemberian bahkan dapat dikatakan pem-berian yang paling penting. Hal itu karena sejumlah kajian mem-buktikan bahwa kebutuhan manusia terhadap rasa senang dan gembira terkadang jauh lebih besar dibandingkan kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Sejumlah kajian juga membukti-kan bahwa rasa senang dan bahagia ini sering menyembuhkan banyak penyakit, terutama gangguan jantung.


2 - Melalui senyuman Anda dapat menyampaikan informasi dengan mudah kepada orang lain, karena kata-kata yang disampaikan dengan senyuman memiliki dampak yang lebih besar pada otak. Hal ini dibuktikan dengan pemindai resonansi magnetik fungsional yang menunjukkan bahwa dampak ungkapan verbal itu sangat bervariasi jika disampaikan dengan senyuman.

3 - Dengan senyuman yang lembut, Anda dapat menjauhkan suasana tegang yang menguasai kondisi apa pun. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan materi. Ini membuktikan bahwa senyuman itu lebih penting dari harta benda. Oleh karena itu pemberian minimal sebagai sedekah yang diberikan kepada orang lain adalah senyuman.


4 - Tersenyum dan penyembuhan: Banyak dokter yang mengamai pengaruh senyuman dalam proses penyembuhan pasien. Oleh karena itu sejumlah peneliti mulai menyatakan bahwa senyuman para dokter dianggap sebagai bagian dari penyembuhan. Jadi, ketika Anda menghadiahkan senyuman kepada rekan Anda, kepada isteri Anda atau kepada tetangga Anda, sebetulnya Anda telah menghadiahkan resep gratis yang akan mengantarkannya kepada kesembuhan tanpa Anda sadari. Dan ini merupakan salah satu bentuk dari pemberian.


Dengan beberapa alasan tersebut di atas, dan alasan-alasan lainnya, kita dapat menegaskan kembali bahwa senyuman adalah salah satu bentuk pemberian, sedekah dan kemurahan hati. Sekarang, apakah Anda menyadari mengapa Rasulullah s.a.w. bersabda:


(وتبسمك في وجه أخيك صدقة)!!
“dan tersenyum kepada saudaramu adalah sedekah”

Wednesday, October 7, 2009

KAUM DHUAFA


Kaum duafa atau kaum lemah biasanya identik dengan orang-orang miskin secara materi. Mereka termasuk orang-orang yang berhak menerima zakat. Lembaga “Dompet Dhuafa Republika”, merupakan salah satu lembaga yang paling getol mengelola dana umat Islam yang disalurkan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum lemah ini.


Para pekerja yang mencari rizki di sektor informal seperti para PRT dapat digolongkan sebagai kaum lemah ini. Mereka biasanya datang dari pedesaan. Pendidikan mereka paling tinggi SMP. Mayoritas hanya tamat SD. Di banyak rumah tangga, mereka mendapatkan imbalan (gaji) jauh di bawah UMR (untuk DKI Rp 1.069.865). Entah karena mereka hanya lulusan SD atau SMP atau karena bekerja di sektor informal yang tidak terikat oleh kontrak kerja, maka pada umumnya mereka mendapatkan gaji ala kadarnya, padahal mereka bekerja nyaris tidak mengenal batas. Sejak sebelum subuh hingga larut malam.

Derita para ibu rumah tangga berulang kali ramai dibicarakan setiap menjelang lebaran, pada saat para PRT mudik. Derita itu diperpanjang manakala para PRT itu tidak kembali lagi. Ibu rumah tangga yang merangkap sebagai wanita karier, penderitaannya akan lebih berlipat ganda. Urusan memasak, mencuci dan menstrika menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan.

Jika selama ini ada seorang majikan yang merasa dirinya lebih berharga, lebih hebat dari orang-orang yang membantu meringankan pekerjaannya, mungkin ada baiknya mengingat kembali ulah seorang sahabat Nabi yang bernama Sa`ad. Ketika itu ia merasa dirinya lebih hebat dari orang-orang yang berada di bawahnya dari segi status sosial dan materi. Menyadari adanya kekeliruan sikap sahabatnya itu, Rasulullah s.a.w. menegurnya dengan sabdanya:

هل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم

“Kamu sekalian mendapat pertolongan dan memperleh rizki semata-mata karena bantuan orang-orang lemah yang ada di sekitarmu”

Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari ini tidak hanya berlaku untuk Sa`ad, tetapi untuk siapa saja yang berperilaku sama dengan dirinya.

Semoga pintu hati kita selalu terbuka untuk memperoleh petunjuk-Nya. Amin.